MAYANGAN, Radar Bromo- Kota Probolinggo dikenal sebagai kota mangga dan anggur. Namun, nama ini menjadi sorotan Badan Anggaran (Banggar) DPRD Kota Probolinggo. Sebab, kini ikon kota mangga dan anggur hanya tersisa nama dan tugu. Makin jarang warga yang memiliki pohon mangga dan tanaman anggur.
Hal itu disampaikan Anggota Banggar DPRD Kota Probolinggo Zainul Fatoni. Dalam pembahasan Rancangan Perubahan APBD 2023, Fatoni mengatakan, Kota Probolinggo dikenal dengan kota mangga dan anggur.
Sayang, ikon yang sudah dikenal luas itu, kini hanya tersisa sebuah nama dan tugu di persimpangan Jalan Panglima Sudirman. Sebab, makin jarang dan hampir tidak ada mangga yang asli Kota Probolinggo dan buah anggurnya.
“Selama ini, peran Dinas Pertanian seperti apa? Karena hampir tidak terlihat lagi kebun anggur di Kota Probolinggo. Warga juga hampir tidak ada yang memiliki tanaman anggur di rumahnya. Begitu juga mangga yang asli Kota Probolinggo, makin jarang,” ujarnya dalam rapat Banggar.
Pernyataan serupa disampaikan Anggota Banggar DPRD Kota Probolinggo Muchlas Kurniawan. Politisi Golkar ini mengatakan, Kota Probolinggo sebagai kota mangga dan anggur, hampir tersisa nama dan tugu. Makin sulit menemukan anggur dan mangga yang asli dari Kota Probolinggo.
“Harus ada peran kuat dari pemerintah untuk menghidupkan kembali ikon Kota Probolinggo, yang dikenal dengan mangga dan anggurnya ini,” katanya.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan (DKPPP) Kota Probolinggo Aries Santoso tidak menampik dengan makin jarangnya mangga dan anggur asli Kota Probolinggo. Tetapi, bukan berarti tidak ada sama sekali. Karena ada tiga kebun anggur dan dua kelompok pecinta anggur yang masih ada di Kota Probolinggo.
“Memang warga yang cinta dan suka tanam anggur, makin berkurang. Termasuk pohon mangga sendiri, juga semakin berkurang,” katanya, Rabu (13/9).
Menurutnya, ada banyak faktor yang memengaruhi. Salah satunya semakin berkurangnya lahan seiring banyak bertumbuhnya pembangunan di Kota Probolinggo. Lahan sempit dan akhirnya tidak memungkinkan untuk memiliki pohon mangga ataupun kebun anggur.
Selain itu, tanaman anggur makin jarang karena panennya hanya sekali dalam setahun, sedangkan pemeliharaannya terus menerus. “Untuk pendampingan dan dorongan dari dinas terus dilakukan. Mulai dari pemberian bantuan bibit anggur dan pendampingan,” katanya. (mas/rud)
Editor : Ronald Fernando