Kematian Muhammad Naufal Zidan, 19, mahasiswa Universitas Indonesia (UI) meninggalkan kesedihan mendalam bagi orang-orang yang menyayanginya. Di mata temannya SD di Probolinggo, dulu Zidan anak yang pendiam. Namun, siswa berprestasi.
==============================
Mata Faridi Al Rasyid, 19, membesar saat membaca berita di Google yang didapat dari kiriman temannya. Di situ tertulis, mahasiswa Universitas Indonesia (UI) Jurusan Sastra Rusia berinisial MNZ tewas dibunuh.
Seolah tidak percaya dengan apa yang dilihat, ia berulang kali membaca berita itu. Karena penasaran, ia membuka Instagram milik Zidan, panggilan Muhammad Naufal Zidan. Di kolom komentar, banyak orang yang sudah menyampaikan ucapan bela sungkawa.
“Ada teman yang share link liputan di Google. Awalnya tidak percaya sama beritanya. Tapi, setelah melihat Instagram milik Zidan, ternyata benar,” kata Faridi, teman Zidan di SDN Sebaung 1, Desa Sebaung, Kecamatan Gending, Kabupaten Probolinggo.
Saat SD, memang Zidan sekolah di Desa Sebaung. Faridi mengenang, Zidan adalah siswa yang pendiam. Dia tidak akan bicara kalau tidak diajak ngomong duluan. Namun, ia adalah siswa yang pandai. Berulang kali Zidan menjadi juara kelas.
Setelah lulus SD, ia kehilangan kontak dengan Zidan. Sebab, saat SMP dan SMA, Zidan memilih bersekolah di Kota Probolinggo. Lalu saat dirinya masih kelas 12 SMA, Zidan sudah pasang Twibbon UI di Instagram-nya. Artinya, Zidan sudah diterima kuliah di UI.
“Zidan selalu jadi siswa yang berprestasi. Buktinya, saat saya masih kelas 12, ia sudah diterima kuliah di UI,” kata mahasiswa S-1 Sistem Informasi di Universitas Negeri Surabaya (Unesa) ini.
Teman Zidan lainnya di SD, Fikri Abqorizzaman menuturkan, Zidan dikenal sangat suka bermain game. Namun, ia pandai membagi waktu untuk belajar dan bermain. Buktinya, dia bisa menyelesaikan pendidikan SMA selama dua tahun saja. Bahkan, kemudian lolos tanpa tes tulis di UI.
Zidan juga dikenal berbakat di banyak hal. Ia pandai dalam IT dan berprestasi dalam bidang akademik. Terakhir kali, ia bertemu dengan Zidan saat reuni SD saat buka puasa bersama (bukber) tahun 2022.
Kata Mahasiswa S-I Sosiologi Universitas Jember (Unej) ini, kenangan paling membekas pada sosok Zidan saat mereka masih kelas 5 SD. Ia bersama sejumlah teman bermain game di sekolah. Dan Zidan mampu meretas dan mengetahui password wifi SDN Sebaung 1.
Gara-gara ulah Zidan, mereka mendapat hukuman karena meretas wifi sekolah. Mereka juga sering mengerjakan tugas kelompok dan membuat rumah-rumahan dari stik es krim.
“Sebenarnya kami ada janji ketemu lagi. Mau jalan-jalan sama teman teman SDN Sebaung 1 dan nonton bioskop. Cuma ternyata, Allah lebih sayang sama Zidan,” jelas Fikri.
Teman Zidan semasa SD, Vidy Fahrel menambahkan, Zidan tidak terlalu akrab dengan banyak teman sekelas. Dari 25 siswa, ia hanya akrab dengan lima orang saja, termasuk dirinya. Namun, Zidan tidak sombong. Ia dan Zidan suka saling mengucapkan saat ulang tahun.
Dulu saat masih SD, ia selalu mampir ke rumahnya di Desa Alassapi, Kecamatan Banyuanyar dan selalu diberi durian oleh orang tuanya. Sehingga, ia kaget saat dikabari oleh teman di grup alumni SD jika Zidan tewas dibunuh.
“Saya tidak menyangka dia sudah tidak ada. Terakhir ketemu sekitar dua tahun lalu, tapi kami selalu kontak-kontakan. Setiap ulang tahun selalu saling mengucapkan selamat ulang tahun,” terangnya. (riz/hn/mie)
Editor : Muhammad Fahmi