MAYANGAN, Radar Bromo - Rencana upacara petik laut atau jitek di Kelurahan/Kecamatan Mayangan, Kota Probolinggo, membuat sejumlah warga gundah. Kegiatan yang rencananya digelar selama tiga hari itu, butuh anggaran Rp 321 juta. Sebagian warga mengeluh karena dimintai iuran.
Kegiatan ini merupakan selamatan desa yang digelar setiap dua tahun sekali. Selain selamatan desa, ada juga acara hiburan. Tahun ini rencananya akan dilaksanakan selama tiga hari mulai Jumat-Minggu (25-27/8).
Ketua Penitia Kadir mengatakan, petik laut tahun ini butuh anggaran sekitar Rp 321 juta. Di antararanya, untuk biaya kesekretariatan Rp 12 juta dan kegiatan pada Jumat (25/8), Rp 26,5 juta. Kegiatan hari Sabtu (26/8) butuh Rp 165 juta dan kegiatan Minggu (27/8) butuh Rp 100 juta. Serta, Rp 17,6 juta untuk anggaran lain-lain.
“Kegiatannya sudah saya rinci di proposal. Hari Jumat ada hataman Alquran dan istighotsah di TPI Mayangan. Lalu, ada Mayangan Bersalawat oleh DMCR di Simpang Lima,” ujarnya.
Sabtu akan digelar petik laut atau jitek dan dilanjutkan dengan penampilan drum band dari salah satu sekolah di Kota Probolinggo. Serta, ada tarian Jaran Bodag, barongsai, Arakan Sakera dan Marlena, serta kesenian Kelabang Songo. “Hari Minggu ada acara tasyakuran dan hiburan berupa orkes melayu,” jelasnya.
Pernyataan serupa disampaikan Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kota Probolinggo Jupri. Menurutnya, ada beberapa perbedaan petik laut tahun lalu. Tahun ini lebih meriah dan digelar tiga hari. Tahun lalu hanya dua hari.
“Tahun 2019, dana yang dibutuhkan sekitar Rp 200 juta. Tahun ini meningkat, lebih Rp 300 juta. Selain itu, membengkak karena biaya orkes melayu tahun ini lebih besar. Rencananya orkes melayu akan diisi oleh New Monata Cak Sodiq. Jadi ada selisih sekitar Rp 50 jutaan,” ujar penanggung jawab acara ini.
Biasanya, kata Jupri, dana petik laut didapat dari nelayan, pemilik kapal, orang balai, dan Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Dispopar) Kota Probolinggo. Namun, tahun ini tidak mendapat support dana dari Dispopar.
“Alasannya, karena acara kami mendadak, sehingga tidak masuk ke anggaran tahunan mereka. Karena itu, selain diupayakan dari sponsor, juga akan dibebankan kepada seluruh warga Kelurahan Mayangan melalui ketua RT dan RW,” katanya.
Rupanya, banyak warga yang keberatan dibebani iuran. Ketua RW 06 Kelurahan Mayangan Karno Bas mengatakan, ketua RT di wilayahnya banyak yang mengumpulkan iuran acara jitek. “Warga saya banyak yang keberatan karena memang sekarang musim nikahan, musim orang melahirkan, belum lagi Agustusan. Pusing ketua RT dan RW-nya,” katanya.
Ketua RW 01 Kelurahan Mayangan Sanusi mengatakan, tidak semua ketua RT di RW 01 berkontribusi. Ada sejumlah warga yang mengeluh. Karena tahun-tahun sebelumnya tidak ada pungutan kepada warga. Serta, tahun ini waktunya bertepatan dengan Agustusan dan acara Haul Mbah Bujuk Songot.
“Tapi, sebagai ketua RW, hal tersebut sudah saya cover. Pihak kelurahan juga tidak mematok harus menyumbang berapa. Sekadar swadaya. Dananya sudah kami serahkan ke kantor kelurahan. Nominalnya tidak seberapa, tapi inilah bentuk partisipasi kami,” katanya. (mg/rud)
Editor : Ronald Fernando