Tak heran kondisi ini dikeluhkan sejumlah pedagang lama. Sebab, sebelumnya stan ini dijanjikan akan “diberikan” kepada pedagang lama. Yakni, mereka yang sudah lama berjualan di tepi Taman Maramis.
Salah seorang pedagang lama mengatakan, stan di dalam Taman Maramis sudah mulai ada yang buka dan berjualan. “Pedagang baru semua yang jualan di tempat yang dibangun pemerintah itu. Tidak ada pedagang lama yang dapat tempat,” ujar pedagang yang enggan namanya disebutkan itu.
Menurutnya, kunci stan sudah diserahkan kepada semua pedagang baru yang akan menempati. Pedagang lama tidak kebagian. “Ada pedagang lama yang mendaftar, ternyata sudah ada orangnya semua. Katanya, nanti akan dikabari kalau yang kosong,” ujarnya.
Dari pantauan Jawa Pos Radar Bromo Minggu (21/5), belum semua stan beroperasi. Dari empat stan di Taman Maramis sisi timur, hanya tiga yang mulai buka.
Kepala Dinas Koperasi, UMKM, dan Perdagangan (DKUP) Kota Probolinggo Fitriawati mengatakan, stan di dalam RTH itu merupakan sentra UMKM atau PKL Maramis. Total ada 8 stan.
Sebelum ditempati, Fitri mengaku sudah menyosialisasikan kepada semua pedagang yang biasa berjualan di tepi RTH Maramis. Sekaligus menawari mereka untuk berjualan di stan yang telah dibangun pemerintah.
“Ternyata pedagang keberatan pindah masuk ke dalam (RTH). Khawatir pembeli tidak mau masuk ke RTH. Karena pembeli masih harus parkir dan masuk ke RTH. Pedagang khawatir tidak laku. Jadi, tidak ada yang mau menempati sentra UMKM/PKL di dalam RTH Maramis itu,” katanya.
Pengakuan Fitri dikuatkan oleh Kabid Perdagangan DKUP Kota Probolinggo Erwan Kiswandoko. Katanya, pedagang lama di RTH Maramis tidak ada yang berkenan berjualan di dalam RTH. Karena itu, stan diberikan kepada pelaku UMKM wilayah Kecamatan Kanigaran, yang bersedia berjualan di dalam RTH Maramis.
“Yang ada di UMKM dalam RTH Maramis rata-rata makanan yang kekinian. Seperti ayam crispy dan lainnya,” ujarnya. (mas/rud) Editor : Jawanto Arifin