Kanit Reskrim Polsek Sukapura Aipda Dadang Hariyanto membenarkan hal itu. Rabu (17/5) pukul 09.00, pihaknya mendapat laporan dari sejumlah pihak bahwa arca Ganesha di bibir kawah Bromo hilang.
Akibatnya, warga Hindu Tengger pun resah. Sebab, arca itu termasuk yang disakralkan oleh umat Hindu. Selain itu, arca dengan tinggi 50 cm dan lebar 50 cm itu selama ini digunakan untuk sembahyang.
“Jadi, ada guide yang saat itu sedang mengantar wisatawan ke kawah Bromo. Saat sampai kawah Bromo, kok arca tersebut hilang. Sehingga lapor ke dukun, kemudian diteruskan ke pihak TNBTS dan ke polsek. Kemudian kami langsung menuju lokasi untuk melakukan olah TKP,” kata Dadang.
Saat olah TKP, arca Ganesha memang tidak ada di lokasi semula. Namun, pihaknya mencatat di belakang arca ditemukan seperti bekas benda jatuh. Kendati demikian, Dadang masih belum bisa memastikan apakah yang jatuh. Apakah benar arca atau bukan.
“Jadi, hasil olah TKP, di bagian belakang arca ada jejak seperi benda jatuh ke kawah. Namun, belum bisa dipastikan apakah itu jejak arca yang jatuh dan hilang atau jejak lainnya,” terangnya.
Hal berbeda diungkapkan Kepala Resort Lautan Pasir TNBTS Bromo Ariyanto. Menurutnya, sejauh ini belum diketahui kepastian penyebab hilangnya arca Ganesha.
Apakah jatuh akibat ada orang yang sengaja menjatuhkannya atau tidak sengaja menjatuhkan. Kemungkinan yang lain, ada pihak yang mengambil arca itu.
“Yang jelas hasil dari pemantauan kami saat olah TKP, tidak mungkin arca itu jatuh. Sebab, kondisinya kokoh,” terangnya.
Pihaknya juga menerjunkan tim untuk melihat di sekitar kawasan apakah ada reruntuhan atau bongkahan arca yang jatuh. Namun, tidak ditemukan.
“Namun, kami juga belum bisa menerangkan secara pasti apakah arca itu dicuri,” tuturnya.
Sementara, berdasarkan pemantauan CCTV dan keterangan sejumlah saksi diketahui, Selasa (16/5) pukul 18.30 hingga pukul 20.00, ada warga yang melakukan ritual di tempat itu. Mereka mengendarai enam sepeda motor dan diketahui bukan warga Kabupaten Probolinggo.
“Ada rekaman CCTV-nya. Tapi, jaraknya terlalu jauh. Jadi, hanya terlihat sinar lampu motornya saja. Ada enam motor yang terekam pada pukul 18.30 hingga pukul 20.00,” urainya.
Arie (panggilannya) pun mengimbau kepada wisatawan yang berkunjung untuk menjaga tata krama dan menghormati budaya yang ada. Semua hal yang disakralkan harus dijaga dan dihormati.
“Ketika merasa tidak sreg misalnya, maka biarkan saja. Tetap harus beradab. Jangan malah melakukan tindakan misalnya merusak atau sejenisnya,” katanya. (rpd/hn) Editor : Ronald Fernando