Pantauan Jawa Pos Radar Bromo, sejumlah PKL yang bandel berjualan di bawah sekeliling alun-alun, terlihat di sisi selatan dan utara alun-alun. Hanya saja, PKL liar yang berjualan itu merupakan PKL keliling yang menggunakan motor, becak motor ataupun gerobak dorong.
Sedangkan di lantai bawah pujasera, terlihat PKL tetap berjualan seperti biasa. Sementara di lantai atas, ada sejumlah PKL yang sudah berjualan. Pengunjung yang datang membeli pun juga ada.
”Saya hari ini coba buka jualan mulai tadi pagi (kemarin, red). Kalau kemarin-kemarin, saya jualan sore sampai malam. Alhamdulillah, kalau malam lumayan ramai pembeli. Apalagi banyak pedagang yang buka jualan di atas, tambah ramai,” kata Eka Qomariah, salah satu PKL yang berjualan es di lantai atas pujasera.
Eka mengungkapkan, sebenarnya dirinya merasa lebih nyaman berjualan di pujasera. Karena fasilitas lebih mendukung. Saat hujan, dirinya tidak lagi kehujanan. Dia juga tak perlu risau akan genangan air.
Dai sisi lokasi, pembeli juga bisa santai di atas. Bahkan, menurutnya pembeli di pujasera lebih ramai dibanding saat dirinya berjualan di depan Masjid Agung.
”Kalau dulu saya jualan di depan Masjid Agung buka pukul 08.00 dan tutup 21.00, itu dapat sekitar 80 ribu. Tetapi di pujasera lantai atas ini, kemarin-kemarin saya jualan mulai sore, jam 9 malam sudah habis. Jadi waktu jualan lebih pendek, hasilnya sama. Hari ini ini saya coba jualan mulai pagi,” terangnya.
Hal serupa diungkapkan Abdullah. Pedagang yang berjualan makanan nasi rawon dan lainnya mengaku, dirinya lebih nyaman berjualan di pujasera, karena tempatnya lebih mendukung. Tidak lagi kebingunan kehujanan atau kepanasan. Soal pembeli ramai atau sepi, itu sudah biasa.
”Kalau soal jualan bisa ditiru, tapi soal rezeki tidak bisa ditiru. Jadi yang penting usaha jualan, resep makanan dijaga, rezeki pasti ada,” ungkapnya.
Berbeda halnya yang disampaikan PKL liar yang masih bandel jualan di sekeliling alun-alun. Iska, salah satu PKL mengaku dirinya hanya bekerja menjaga jualan es susu. Kenapa milih tetap jualan di bawah? Karena di pujasera lantai atas sepi. Pernah jualan di atas, ternyata hanya ada sekitar 5 pembeli.
”Kalau jualan di bawah tepi jalan ini, sehari bisa 100 gelas,” ujarnya.
Sebelumnya, Pemkot Probolinggo melakukan pertemuan di kantor Pemkot Probolinggo, Kamis (4/5) dengan para PKL. Ada puluhan perwakilan PKL yang mengikuti pertemuan tersebut atas undangan Wali Kota Habib Hadi Zainal Abidin. Pertemuan membahas penataan PKL yang hingga kini masih berpolemik. PKL yang mau berjualan di lantai dua pujasera. Mereka semua berjualan di lantai satu. Alhasil, kondisi lantai dua kosong.
Dalam pertemuan itu, perwakilan PKL yang hadir mengaku siap berjualan di pujasera. Asalkan, semua PKL berjualan di lantai atas atau lantai dua. Sedangkan pujasera lantai bawah digunakan untuk tempat parkir. Itu sesuai dengan rencana awal pembangunan pujasera di alun-alun.
Bagi pengunjung yang datang ke alun-alun, membeli kuliner di Pujasera ada plus minusnya. Akan lebih nyaman menikmati kuliner di pujasera, terutama lantai atas, saat tidak buru-buru. Karena, bisa menikmati pemandangan sambil menikmati kuliner. Namun, jika hanya datang membeli dan dibawa (pulang), memang lebih efektif memilih PKL di bawah.
Hal itu diungkapkan Aliyakul karimah, 18, asal Desa Banjarsari, Kecamatan Sumberasih yang berkunjung ke alun-alun bersama temannya. Dirinya memilih naik ke lantai pujasera untuk membeli kuliner. Karena dapat menikmti kuliner sambil melihat pemandangan.
”Kalau ingin menikmati makan sambil lihat pemandangan, sebenarnya nyaman milih naik ke atas. Tetapi kalau malas naik, memang susah dipaksakn untuk ke atas,” ungkapnya.
Senada diungkapkan Siti Ilmiah, 18, pengunjung pujasera lantai atas lainnya. Ia mengaku, dirinya milih makan dan beli kuliner di lantai atas, karena memang suka pemandangan. Kalau niatnya jalan-jalan di alun-alun, tentunya membeli kuliner juga tidak buru-buru. Sehingga saat merasa lelah usai keliling alun-alun, dia bisa makan santai di lantai atas pujasera.
”Buat diambil foto atau video juga sangat pas kalau di lantai atas ini. Memang kita harus naik dengan jalan kaki dulu, beda dengan yang dibawah tidak perlu jalan naik,” ungkapnya.
Sementara itu, Kepala Satpol PP Kota Probolinggo, Pujo Agung Satrio saat dikonfirmasi menegaskan, semua PKL alun-alun hanya boleh berjualan di pujasera. Baik itu lantai bawah maupun lantai atas. Jika memang ada PKL yang belum mendapatkan tempat di pujasera, bisa segera disampaikan ke Dinas Koperasi, Usaha Mikro dan Perdagangan (DKUP), supaya segera dicarikan solusinya.
”Kami tetap siagakan petugas gabungan untuk patrol dan tertibkan di kawasan alun-alun. Sesuai peraturan daerah, dilarang PKL berjualan di sekeliling alun-alun tersebut. pemerintah sudah siapkan berjualan di Pujasera,” tegasnya. (mas/fun) Editor : Ronald Fernando