ARIF MASHUDI, Mayangan, Radar Bromo
Hari sudah malam, pukul 20.00. Namun, masih banyak mobil parkir di jalan depan Bakso Eddy Depan Eratex tersebut. Dari luar ada yang berbeda dengan tampilan depan bangunan itu.
Ternyata sisi barat yang awalnya tempat parkir, kini disulap menjadi tempat pengunjung yang didesain seperti kafe. Lalu di sebelah samping barat pintu rumah makan itu, ada jualan anekan minuman cokelat. Suasana itu seolah mewakili keinginan para pengunjung kekinian. Yaitu, menarik dijadikan spot selfie.
Eddy Juprianto, pemilik Bakso Eddy Depan Eratex mengaku, tidak ada kiat khusus sehingga membuat usaha baksonya itu bertahan hingga 25 tahun. Hanya, dia tidak pernah mengubah resep bakso yang dibuatnya. Selain itu, selalu jujur dan ulet. Tidak takut dalam berusaha.
”Promosi tetap dibutuhkan dalam usaha apa pun tentu saja. Dulu saya juga sering promosi usaha bakso saya ini. Bahkan, sampai sekarang. Termasuk dulu sering pasang iklan di Radar Bromo,” ungkapnya.
Eddy sebenarnya bukan warga asli Probolinggo. Dia berasal dari Tanggul, Kabupaten Jember. Lalu dia merantau ke Probolinggo sekitar tahun 1994 setelah sebelumnya bekerja sebagai buruh bangunan di Bali pada 1993.
Eddy sengaja ke Probolinggo karena ingin menjadi kondektur bus AKAS yang saat itu menjadi profesi yang banyak dicari. Dia pun melamar ke semua perusahaan Bus AKAS. Dengan harapan, dirinya dapat diterima sebagai kondektur. ”Sambil menunggu panggilan kerja, saya kos di Probolinggo,” lanjutnya.
Pria lulusan SMEA Negeri Tanggul Jember itu menambahkan, kos yang ditempati kebetulan kumpul dengan Bakso Pak Wi. Suatu hari, seorang pekerja Pak Wi mendadak tidak masuk. Padahal, bakso dengan gerobak dorong sudah siap.
Akhirnya, Eddy menawarkan diri untuk menggantikan pekerja yang tidak masuk tersebut. Ternyata Pak Wi mengizinkan. Dirinya pun langsung berangkat saat itu.
Tanpa diduga, dagangan bakso keliling yang dibawanya laku cepat. Bahkan, pukul 19.00 sudah pulang karena habis.
Pertama bekerja jadi tukang bakso keliling, Eddy diberi gaji sehari Rp 20 ribu. Dapat uang sebesar itu, dia pun senang sekali. Akhirnya, Eddy pun memutuskan untuk meneruskan pekerjaannya itu.
“Waktu itu nilai Rp 20 ribu sangat besar. Jadi saya lanjutkan saja bekerja. Sekitar satu tahun saya bekerja jadi tukang bakso keliling sampai tahun 1995,” tambahnya.
Setelah itu, Eddy pun bekerja sebagai sales Unilever. Tiga tahun lamanya dia bertahan. Meskipun sebenarnya dia tetap ingin bekerja sebagai kondektur Bus AKAS.
”Alhamdulillah, saya bekerja sebagai sales. Kerja apa adanya, tidak pernah buat-buat. Target kerjaan sales juga tercapai terus,” terangnya.
Dari pekerjaan sebagai sales, diakui Eddy, dirinya banyak kenal dengan para pemilik usaha besar di Probolinggo. Seperti pemilik GM, Sinar Terang, Diva Kraksaan, dan Soponyono.
Dari situ dia berpikir untuk membuka usaha. Dari mereka dirinya belajar, ternyata usaha apapun harus jujur, ulet, dan berani.
Eddy pun membulatkan tekat. Berbekal tabungan yang dimilikinya, dia pun membuka usaha sendiri. Dan yang menjadi pilihannya adalah usaha bakso.
”Waktu itu saya punya tabungan sekitar Rp 6 juta. Saya lantas berhenti sebagai sales dan membuka usaha sendiri. Karena punya pengalaman kerja jadi tukang bakso, jadi saya memutuskan jualan bakso,” terangnya.
Awal membuka usaha bakso, Eddy melakukan berdua dengan temannya. Saat itu, bakso yang dibuka Eddy diberi nama Bakso Pak Wi. Namun, banyak komentar tidak enak.
Karena itu, Eddy kemudian mengganti nama usahanya itu dengan Bakso Eratex. Sebab, lokasinya di depan PT Eratex.
Lagi-lagi, nama itu diprotes. Pihak PT Eratex secara halus menyampaikan keberatan dengan penggunaan nama itu. Eddy pun mengganti lagi nama baksonya. Tidak terlalu berbeda. Dia menggantinya dengan nama Bakso Depan Eratex.
Setelah beberapa tahun usahanya berjalan, nama bakso itu diubahnya lagi. Menjadi Bakso Eddy Depan Eratex. Itu dilakukan setelah dia memiliki lahan sendiri di samping tempat dia jualan.
”Waktu itu saya memang belum punya lahan sendiri. Saya terus berdoa supaya lahan milik toko Sepatu Yolisa di sebelah saya jualan itu, bisa saya beli. Saya pegang tiap hari tanah lahan itu dan berdoa agar bisa saya beli. Alhamdulillah, akhirnya tanah itu dijual,” ujarnya.
Eddy mengutarakan niatnya membeli tanah itu pada pemiliknya. Pemilik mematok harga Rp 100 juta. Namun, tabungannya kala itu hanya Rp 40 juta. Eddy pun berusaha mencari pinjaman pada saudara-saudaranya. Namun, tidak ada saudaranya yang memberi pinjaman.
Dia pun menghubungi lagi pemilik tanah. Meminta waktu sebulan untuk membeli tanah itu. sambil terus berusaha mendapat pinjaman.
“Saya minta waktu sebulan. Kalau lebih dari itu saya tidak bisa beli, ya berarti bukan rezeki saya,” tuturnya.
Hari berlalu. Tepat seminggu sebelum batas pembelian yang disepakati, tiba-tiba Eddy kedatangan seorang pembeli. Bukan pembeli biasa. Tapi, pimpinan BRI Unit Gotong Royong kala itu.
”Ada pembeli datang, ternyata pimpinan BRI Gotong Royong. Namanya Pak Robert. Beliau saat itu menawarkan pinjaman modal untuk usaha. Saya langsung mengiyakan. Dari situ, pinjaman saya langsung diproses. Alhamdulillah, Allah beri jalan,” terangnya.
Kini Bakso Eddy Depan Eratex miliknya sangat dikenal. Pelanggannya bukan hanya dari Probolinggo. Namun, juga dari luar Probolinggo. Bahkan, tidak sedikit pengendara yang mampir ke Bakso Eddy Depan Eratex saat melewati Probolinggo.
Tidak hanya dari kalangan biasa. Baksonya juga dikenal sebagai kedai bakso langganan artis. Terbukti sejumlah artis pernah berkunjung menikmati bakso buatannya saat datang ke Probolinggo. Misalnya saja, Ayu Ting Ting, Wali Band, Pas Band, Hijau Daun, Enno Lerian, sampai Putri Indonesia 2009 Qory Sandioriva.
”Banyak pelanggan dari luar daerah mampir beli bakso di sini. Termasuk artis juga. Alhamdulillah, bakso usaha saya dapat dinikmati semua kalangan. Karena memang dari awal membuat usaha bakso ini, inginnya disukai kalangan bawah, menengah, sampai atas,” ungkapnya. (hn) Editor : Jawanto Arifin