Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Atasi Kekeringan di Tigasan Kulon Leces, Pemdes Buat Sumur Bor

Ronald Fernando • Jumat, 31 Maret 2023 | 15:59 WIB
KEDALAMAN 70 METER: Kades Tigasan Kulon Suhin Setiawan menunjukkan proses pembuatan sumur bor di Dusun Gonggo. Meski sudah mencapai kedalaman 70 meter, air belum keluar. Proses pengeboran sejauh ini masih berlangsung. Keberadaan sumur bor diharapkan bisa
KEDALAMAN 70 METER: Kades Tigasan Kulon Suhin Setiawan menunjukkan proses pembuatan sumur bor di Dusun Gonggo. Meski sudah mencapai kedalaman 70 meter, air belum keluar. Proses pengeboran sejauh ini masih berlangsung. Keberadaan sumur bor diharapkan bisa
Kekeringan yang selalu melanda Desa Tigasan Kulon, Kecamatan Leces, jadi perhatian pemerintah desa setempat. Berbagai upaya dilakukan. Salah satunya, dengan membuat sumur bor. 

------------------------------------------------------------------------------------------------------

SETIAP musim kemarau, warga Desa Tigasan Kulon, Kecamatan Leces, selalu dihadapkan pada problem klasik; kekeringan. Warga setempat harus membeli air untuk kebutuhan minum. Mereka juga menyediakan tandon untuk tadah air hujan.

Kondisi itu terus jadi perhatian Pemdes Tigasan Kulon. Tahun ini, pemdes setempat menambah satu sumur bor di Dusun Gonggo. Sumur bor itu diharapkan bisa menjadi solusi kesulitan air yang dialami oleh 180 kepala keluarga (KK) di dusun setempat.

Kades Tigasan Kulon Suhin Setiawan mengungkapkan, pengadaan sumur bor ini merupakan program lanjutan pada 2018. Saat itu, pemdes membangun mesin bor di Dusun Curahwindu. Alhasil, 260 KK di desa ini tidak lagi kesulitan air.

“Sebelum 2018, seluruh warga di Desa Tigasan Kulon selalu kesulitan air. Mereka beli air ke luar desa hingga mendatangkan tangki air,” kata Kades Suhin.

Selama ini, lahan pertanian yang bisa ditanami di desa setempat hanyalah tebu, jagung, dan sengon. Sebab, tanaman itu tidak membutuhkan banyak air. Untuk tanaman padi dan palawija tidak bisa ditanam dalam kondisi air yang minim.

Saat ini, proses pembangunan sumur bor ini sudah mencapai kedalaman 70 meter. Namun, belum mengeluarkan air. Masih kerikil dan batu. Targetnya, air bisa memancar di kedalaman 90 meter.



Photo
Photo
KOMPAK: Kades Suhin Setiawan bersama perangkat desa.

 

“Kalau di Dusun Curahwindu itu di kedalaman 70 meter bisa keluar air. Kalau sampai kedalaman 90 meter masih belum juga keluar, ya akan terus kami lakukan pengeboran,” jelas Suhin.

Menurutnya, satu KK dengan jumlah anggota keluarga sebanyak lima orang, dalam sehari bisa membutuhkan 12 jeriken air. Satu jeriken air itu dibeli dengan harga Rp 1.000. Jadi, jika anggota keluarga lebih dari itu, biaya yang dikeluarkan lebih banyak.

“Untuk kebutuhan mandi dan air minum ternak dari tandon air hujan. Tapi, kalau buat air minum dan memasak ya harus beli. Sumur bor ini diharapkan bisa jadi solusi,” harapnya. (riz/mie)

------------------------------------------------------------------------------------------------------

Photo
Photo
BENAHI INFRASTRUKTUR: Perangkat desa menunjukkan jalan di Dusun Curahwindu yang sudah dirabat beton. Inset, jembatan di Dusun Curahwindu yang masih dalam tahap penggarapan tahun ini. (Fahrizal Firmani/ Radar Bromo)



Rehab Jembatan-Jalan Antardusun

SELAIN kekeringan, kondisi ruas jalan juga jadi pekerjaan rumah (PR) di Desa Tigasan Kulon. Akses jalan di Desa Tigasan Kulon mayoritas rusak parah. 

Kondisi itu disebutkan, imbas dari letak geografis yang berbatasan dengan Desa Wates Kulon, Kecamatan Ranuyoso, Kabupaten Lumajang, membuat jalan setempat kerap dilewati truk besar.

Karena itulah, sarana infrastruktur juga menjadi prioritas utama dari pemdes setempat. Tahun ini, pihak desa merehab jembatan dan melakukan rabat beton di Dusun Curahwindu. 

Rehab jembatan di Dusun Curahwindu dilakukan karena fondasi jembatan sudah retak dan harus diganti. Jembatan sepanjang delapan meter ini akses utama warga menuju Pasar Leces dan jalur utama ke lahan pertanian.

Selain penggantian fondasi, jembatan ini juga dilebarkan dari tiga kilometer menjadi empat kilometer. Sehingga, kendaraan roda empat bisa melintas dengan nyaman. Apalagi jembatan ini agak menikung.

“Saat ini, baru tergarap 40 persen. Insyaallah, sebelum Lebaran sudah bisa difungsikan dengan normal,” kata Kades Tigasan Kulon Suhin Setiawan.

Tahun ini, Pemdes Tigasan Kulon juga melakukan rabat beton di Dusun Curahwindu di RT 20/RW 5 sepanjang 113 meter. Sebelumnya, jalan ini masih berupa tanah. Pemilihan rabat karena permukiman ini masih berkembang.

“Saat ini ada sekitar 12 rumah. Kemungkinan jumlah penduduk di sini masih bisa bertambah. Kalau ada yang bangun rumah dan truk material masuk, paving cepat amblas,” bebernya. (riz/mie)

------------------------------------------------------------------------------------------------------

Photo
Photo
GERAKKAN RODA EKONOMI: Perangkat Desa Chairul Anwar memberi pakan ternak bagi sapinya. Sekitar 90 persen warga Tigasan Kulon beternak. Aksi pencurian hewan di desa setempat minim lantaran digencarkan poskamling.

Giatkan Poskamling Tekan Pencurian Ternak

MAYORITAS penduduk Desa Tigasan Kulon adalah peternak. Setiap rumah, sedikitnya memiliki ternak sapi atau ayam di rumahnya minimal satu ekor. Ternak ini akan dijual saat sudah berkembang.

Kades Tigasan Kulon Suhin Setiawan menjelaskan, ada sekitar 90 persen warganya yang juga beternak. Paling banyak adalah sapi. Ternak ini dipilih karena bisa menjadi investasi.

Rata-rata, ternak ini dijual saat ada kebutuhan. Mereka menjualnya ke Pasar Leces. Selama ini, kehilangan ternak di desa setempat jarang terjadi, meski ternak yang dimiliki warga itu cukup banyak.

“Memang pernah ada kejadian pencurian ternak, tapi minim. Kalaupun ada, itu dari arah Lumajang, kebetulan Desa Tigasan Kulon ini berbatasan dengan Lumajang,” kata Kades Suhin.

Untuk memastikan hewan ternak di desanya tetap aman, pemdes menggalakkan poskamling. Setiap malam, perangkat desa dan masyarakat bergantian berjaga. Mereka berkeliling memastikan desa tetap kondusif.

“Ada poskamling yang rutin kami adakan. Meski angka kriminalitas ternak rendah, tapi tetap perlu kami lakukan, memastikan desa itu memang aman,” terang Suhin. (riz/mie)

------------------------------------------------------------------------------------------------------

PENDAPATAN

Pendapatan Transfer Rp 1.640.930.908,00

Pendapatan Lain lain Rp                         0,00

JUMLAH PENDAPATAN Rp 1.640.930.908,00

------------------------------------------------------------------------------------------------------

BELANJA

Bidang Pemerintahan Rp     506.279.843,27

Bidang Pembangunan Rp     974.058.080,00

Bidang Pembinaan Rp       27.090.000,00

Bidang Pemberdayaan Rp         6.000.000,00

Bidang Penanggulangan Bencana Rp     137.130.000,00

JUMLAH BELANJA Rp 1.650.557.923,00

------------------------------------------------------------------------------------------------------

SURPLUS (DEFISIT) (Rp       9.627.015,27)

------------------------------------------------------------------------------------------------------

PEMBIAYAAN

Penerimaan Pembiayaan Rp         9.627.015,27

Pembiayaan Netto Rp         9.627.015,27

------------------------------------------------------------------------------------------------------

Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran Rp                         0,00 Editor : Ronald Fernando
#kekeringan leces #transparansi desa