Lokasi yang paling sering ditemukan pengemis dengan membawa anak-anak di traffic light Jalan Brantas. Kusnan, salah satu warga sekitar trafick light Jalan Brantas mengatakan, biasanya setiap sore atau hampir magrib ada minibus yang parkir di sekitar trafick light. Setelah diamati, para pengemis semuanya naik mobil ini.
“Ironisnya, pengemis itu membawa anak-anak. Para pengemis itu sudah saling kenal dan kemungkinan ada yang mengoordinasi. Karena, sore atau magrib ada mobil yang menjemputnya,” ujarnya.
Dari sejumlah pengemis di simpang empat ini, salah satunya mengaku berasal dari Desa Klaseman, Kecamatan Gending, Kabupaten Probolinggo. Namun, perempuan yang mengenakan topi dan kerudung ini sudah tinggal di Kota Probolinggo. Ikut suaminya.
Ia mengaku membawa anaknya ikut mengemis karena di rumahnya tidak ada yang menjaga. Kebetulan anaknya masih belum sekolah. “Anak saya belum sekolah. Rencana mulai sekolah setelah Lebaran. Saya ke sini naik angkot. Nanti jam 4 sore pulang,” ujarnya, kemarin.
Berbeda dengan pengemis yang berada di sisi barat trafick light. Perempuan yang menutup wajahnya dengan kerudung, masker, dan topi itu mengaku dari Kelurahan Jati, Kecamatan Mayangan, Kota Probolinggo. Ia biasa mengemis di jalan selepas anaknya pulang sekolah.
Pengemis ini mengaku pernah dua kali terjaring razia Satpol PP Kota Probolinggo. Namun, pengalaman itu tak membuatnya kapok untuk mengemis di jalanan. “Anaknya sendiri yang mau ikut. Kalau tidak ikut, juga kasian sendirian di rumah. Karena suami kerja cari rongsokan,” ujarnya.
Terpisah, Kepala Satpol PP Kota Probolinggo Pujo Agung Satrio mengatakan, pihaknya sebenarnya sudah melakukan patroli secara rutin di wilayah Kota Probolinggo. Saat patroli tidak ditemukan pengemis dengan membawa anak.
Pernah beberapa kali ditemukan, mereka langsung diamankan untuk dilakukan pembinaan. “Kami akan lebih giatkan patroli rutin. Jika memang didapati pengemis yang membawa anak, akan diamankan untuk dilakukan pembinaan,” ujarnya. (mas/rud) Editor : Ronald Fernando