Banyaknya angkutan pribadi dan gempuran travel, membuat Bison sering sepi order. Saat ini hanya tinggal 12 Bison. Itupun dari 12 Bison, baru beberapa hari bisa jalan.
Ahmad Yusuf salah satu sopir Bison, mengaku saat ini kendaraan angkut ini memang banyak saingan. Padahal dulu menjadi andalan wisatawan, termasuk wisatawan asing.
“Pada tahun 2018 lalu sebelum Covid-19, jumlahnya masih ada 35 kendaraan. Saat itu juga kondisinya sudah sepi penumpang. Ditambah lagi dengan adanya pandemi, sehingga banyak yang dijual dan juga dipotong dan diubah jadi truk. Sehingga untuk angkutan barang,” kata pria kelahiran 1986 asal Kelurahan Triwung kidul, Kecamatan Kademangan Kota Probolinggo.
Saat ditemui di Terminal Bayuangga Kota Probolinggo Selasa (24/1) pagi, dia juga masih belum berangkat. Dia pun menyebut, keberangkatannya bergantung dengan wisatawan yang datang.
Menurut Yusuf, saat ini banyak angkutan pribadi yang masuk ke jalur Bison. Termasuk banyaknya angkutan online pelat hitam yang mengangkut penumpang sampai ke Bromo. Bus-bus besar saat ini juga naik ke Bromo.
Bukan hanya itu. Banyak travel atau jip-jip yang harusnya wilayah operasinya di kawasan Bromo, turun dan narik penumpang hingga ke Patalan-Lumbang. Bahkan mengambil penumpang di hotel-hotel. Itu tak hanya di Kota Probolinggo. Di daerah lain, jasa travel juga ada yang menawarkan menjemput dari depan rumah.
“Dulu jip itu tidak ambil sampai bawah. Jadi kami yang ambil penumpang dari terminal hingga ke Cemorolawang. Selanjutnya baru naik jip ke kawah Bromo, lautan pasir, penanjakan dan sebagainya. Namun sekarang berbeda. Jip ambilnya juga dari bawah. Selain itu bus bus pariwisata juga naik hingga ke Cemorolawang,” beber Yusuf.
Harusnya, lanjut Yusuf, bus berhenti di terminal saja. Sehingga saat ke Cemorolawang memakai jasa Bison. “Dan saat masuk kawasan lautan pasir dan sebagainya pakai jip,” katanya.
Tentunya persoalan pendapatan penumpang ini adalah hal yang besar bagi para sopir. Mereka sudah pernah dikumpulkan. Sebut saja saat ada kesempatan berdialog dengan Dinas Perhubungan Provinsi. Dinas tidak bisa memberikan jawaban ketika pada sopir Bison meminta agar jalurnya dibersihkan.
“Kami ini resmi dan berada di bawah naungan Dishub Provinsi Jatim. Dulu ketika masih ada paguyuban, sempat kami menyuarakan ke Dishub Jatim agar jalan kami dibersihkan. Sayangnya dari Dishub Jatim tidak bisa menjawabnya,” lanjutnya.
Jika dibiarkan begitu terus, maka dia tidak bisa memikirkan kelanjutan Bison. “Sepertinya tidak sampai lima tahun ke depan. Sebab saat ini saja sulit penumpang. Ini kan sistemnya ngantre. Mobil ini saja sudah lima hari belum jalan sama sekali,” tuturnya.
Dari segi tarif, Bison sebenarnya bersaing. Masing-masing penumpang dari Terminal hingga ke Cemorolawang Rp 50 ribu. Kapasitas 15 penumpang satu Bison. “Regulasinya belum diperbarui mas. Kalau dulu Rp 35 ribu dengan catatan menunggu 15 penumpang baru berangkat. Nah untuk saat ini Rp 50 ribu dengan catatan sudah ada 10 penumpang baru berangkat. Kami nonstop sehingga Bison jurusan Bromo akan ada terus,” terangnya.
Hal senada juga diungkapkan Alif, 39, sopir Bison lainnya. Menurutnya, pendapatan sopir dalam sekali jalan Rp 50 ribu. Jika uang itu digunakan untuk ngetem menunggu penumpang dari pagi hingga malam, maka uang Rp 50 ribu tersebut tidak cukup.
“Belum cukup untuk belanja orang di rumah. Kami berharap ada solusi dari pemerintah terkait dengan angkutan Bison ini,” harapnya. (rpd/fun) Editor : Jawanto Arifin