Wabup Probolinggo Timbul Prihanjoko pun mengaku lega dengan kondisi itu, kemarin (18/1) saat berkunjung ke Gili Ketapang. Menurutnya, krisis air bersih yang sempat terjadi di Gili Ketapang sejak Desember murni bencana alam. Timbul tidak ingin peristiwa itu terjadi lagi. Di sisi lain, dia berterima kasih karena warga sudah bersabar pada kondisi tersebut.
"Alhamdulillah sekarang sudah mulai normal. Saya sudah minta pada Perumdam Tirta Argapura (dulu PDAM Kabupaten Probolinggo) agar ada upaya khusus, sehingga kejadian ini tidak terulang lagi," tuturnya.
Di Gili, Timbul sempat dialog bersama perwakilan warga di Balai Desa setempat. Ia didampingi sejumlah kepala organisasi perangkat daerah (OPD). Seperti Direktur Perumdam Tirta Argapura Gandhi Hartoyo; Kalaksa Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Probolinggo Rahmad Waluyo; dan Kadiskominfo Yulius Cristian.
Timbul juga mengunjungi rumah salah satu warga yang dialiri PDAM di Dusun Pesisir, Rohimah. Ia menghidupkan keran di rumah itu. Timbul pun puas saat melihat aliran air cukup besar.
Sementara Rohimah menyampaikan terima kasihnya pada Timbul, karena air PDAM sudah mengalir normal. Menurutnya, aliran air sudah normal sejak 9 Januari. Selain itu, debit air selalu tinggi.
Namun, tidak demikian dengan rumah yang berada di wilayah utara yang berlokasi lebih tinggi. Mereka mengeluh debit air tidak terlalu besar.
"Alhamdulilah sejak diperbaiki pekan lalu, debit airnya tinggi. Tidak ada kendala. Kalau yang di wilayah utara, banyak yang bilang airnya tidak besar," ungkap Rohimah.
Kabag Teknik Perumdam Tirta Argapura Hari Supriyanto menyebut, ada 2033 warga yang menjadi pelanggan aktif PDAM. Pola konsumsi tiap pelanggan berbeda.
Namun, pada pagi hari antara pukul 06.00 sampai 07.00 dan petang hari pada pukul 17.00 sampai 18.00, debit air memang lebih kecil. Karena pada jam tersebut, warga yang menggunakan air PDAM banyak.
"Debit air rata-rata mencapai dua bar. Cuma saat jam sibuk, memang aliran air lebih kecil. Tapi masih cukup besar, sekitar 1,3 bar. Tapi kalau malam hari, insyaallah nyala air tidak ada masalah," sebut Hari.
Direktur Perumdam Tirta Argapura Gandhi Hartoyo membenarkan bahwa aliran air di wilayah utara tidak sebesar di wilayah pesisir. Sebab, lokasinya lebih tinggi. Sehingga, pipa PDAM harus berkelok-kelok mencapai rumah warga. Berbeda dengan pesisir yang berada di wilayah lebih rendah.
"Ini memengaruhi tekanan air yang dikirim dari Ronggojalu. Tekanan yang berada di wilayah pesisir lebih besar daripada di wilayah utara. Ini berpengaruh pada debit air," jelas Gandhi.
Ke depannya, pihaknya berencana menanam pipa PDAM di dasar laut. Sehingga, jangkar tidak akan merusak pipa. Namun, dengan menggunakan alat modern tentu mahal.
Karena itu, pihaknya akan mencoba usulan dari nelayan dengan mamakai cara tradisional. Yaitu, merakit pipa. Pihaknya bahkan sudah menerima desainnya.
"Pipa yang akan ditanam ini yang lokasinya rawan dilewati oleh kapal tongkang. Perkiraan kalau pakai cara tradisional butuh anggaran sekitar Rp 30 juta sampai Rp 40 juta. Akan kami lakukan secepatnya," terangnya. (riz/hn) Editor : Ronald Fernando