Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Budaya dan Praktik Toleransi Warga Suku Tengger Bromo

Ronald Fernando • Rabu, 14 Desember 2022 | 19:14 WIB
PATUHI PEMERINTAH: Warga Suku Tengger menghadiri sosoalisasi penanganan Covid-19 yang disampaikan tokoh Tengger. (Zainal Arifin/Jawa Pos Radar Bromo)
PATUHI PEMERINTAH: Warga Suku Tengger menghadiri sosoalisasi penanganan Covid-19 yang disampaikan tokoh Tengger. (Zainal Arifin/Jawa Pos Radar Bromo)
SIAPA yang tidak mengenal Suku Tengger di lereng Gunung Bromo. Meski terbilang minoritas, namun toleransi budaya, agama, serta perilaku gotong royong sangat tinggi. Tak heran jika suku atau masyarakat Tengger dijadikan miniatur percontohan nusantara.

Pada dasarnya, budaya masyarakat Suku Tengger merupakan masyarakat yang ramah, sopan santun, guyup, dan saling gotong royong. Serta, menghormati para leluhurnya yang sangat luar biasa.

Warga Suku Tengger sendiri memiliki pedoman hidup Catur Guru Bhakti. Ketua Forum Pembauran Kebangsaan (FPK) Kabupaten Probolinggo Supoyo mengatakan, Catur Guru Bhakti merupakan kebaktian para Guruh Papat (empat). Yakni, bakti kepada Tuhan Yang Maha Esa atau orang Hindu menamakan Sang Hyang Widhi. Kedua, bakti kepada orang tua dan leluhurnya.

Ketiga, bakti kepada gurunya. Baik di sekolah maupun di luar sekolah. Seperti guru ngaji ataupun orang yang membuat kita sukses. Keempat, bakti kepada pemerintahan. Karena itu, orang asli Tengger dan belum terkontaminasi, dipastikan dalam membayar pajak tidak akan pernah telat.

“Bahkan, dulu pernah diteliti oleh Profesor Doktor Ayu Sutarto, yang merupakan dosen dari Unej (Universitas Jember). Hasilnya orang Tengger ini benar-benar patuh pada Guruh Papat atau Catur Guru Bhakti ini,” ujar sesepuh warga Suku Tengger tersebut.

Selain itu, Penasihat Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Probolinggo ini mengatakan, warga Suku Tengger juga memegang teguh tiga hubungan harmonis yang disebut Tri Hita Karana. Tri Hita Karana merupakan falsafah hidup tangguh. “Tri itu tiga, Hita kebahagiaan, dan Karana artinya penyebab,” jelas Supoyo.

Adapun Tri Hita Karana merupakan hubungan antarmanusia dengan Tuhannya, hubungan manusia dengan manusia, dan hubungan manusia dengan alam. “Dengan memegang teguh tiga kunci untuk menjalin keharmonisan itu, sehingga tercipta masyarakat Suku Tengger yang ramah, santun, gotong royong,” tuturnya.

Yang jelas, Supoyo menegaskan, jika berbicara Suku Tengger, maka semua masyarakat di lereng gunung. Baik Bromo ataupun Semeru. Tidak berbicara masalah agama. Baik yang beragama Islam, Katolik, Hindu, maupun Budha.

Ketika berada di kawasan lereng gunung, maka menjadi masyarakat Suku Tengger. Misalnya, warga Suku Tengger Bromo di Probolinggo, sehingga ada di Kecamatan Sukapura, Kecamatan Sumber, dan Kecamatan Lumbang. Ketika berbicara Suku Tengger di Pasuruan, ada Wonokitri dan Tosari. Begitu juga di daerah lain, baik di Malang ataupun Lumajang. “Jadi, warga Suku Tengger itu tidak berbicara masalah agama,” katanya. (rpd/*) Editor : Ronald Fernando
#tengger #bromo