Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Batu Lesung Tanjungsari yang Masih Dijaga karena Peninggalan Nenek Moyang

Jawanto Arifin • Sabtu, 10 Desember 2022 | 22:15 WIB
BATU LESUNG: Kasun Krajan Muhammad Saihu (kiri) bersama Badri, takmir Masjid Ar-Rohmah di depan batu lesung. (Foto: Agus Faiz Musleh/Jawa Pos Radar Bromo)
BATU LESUNG: Kasun Krajan Muhammad Saihu (kiri) bersama Badri, takmir Masjid Ar-Rohmah di depan batu lesung. (Foto: Agus Faiz Musleh/Jawa Pos Radar Bromo)
BANYAK peninggalan kuno di Kabupaten Probolinggo yang belum diketahui banyak orang. Salah satunya batu lesung di Desa Tanjungsari, Kecamatan Krejengan. Batu lesung ini dipercaya sebagai bagian dari peradaban leluhur.

Batu Lesung itu berada di Dusun Krajan, Desa Tanjungsari, Kecamatan Krejengan, Kabupaten Probolinggo. letaknya tepat di depan Masjid Ar-Rohmah di dusun setempat. Masjid tertua ketujuh di Kecamatan Krejengan.

Saat Jawa Pos Radar Bromo datang ke masjid itu, terlihat sejumlah warga sedang melakukan aktivitas di masjid. Tak terkecuali takmir masjid yang hendak mengumandangkan azan Asar. Mengingat jam menunjukkan pukul 14.30.

Photo
Photo
DARI LELUHUR: Batu lesung dipercayai sebagai peningggalan leluhur Desa Tanjungsari. (Foto: Agus Faiz Musleh/Jawa Pos Radar Bromo)

Tepat di halaman masjid, ada sebongkah batu yang tertanam di tanah. Cukup mengecoh mata, sebab bongkahan batu tersebut hampir menyerupai semen. Ditambah lagi, batako di halaman masjid cukup menyamarkan batu tersebut.

“Sekitar tahun 2005, batu ini dipindah dari sawah yang ada di selatan masjid. Sekitar 400 meter dari tempat semula,” kata Kepala Dusun Krajan Muhammad Saihu.

Batu ini memiliki permukaan datar dengan bagian tengah cekung menyerupai lesung. Namun, berbeda dengan lesung pada umumnya, cekungan pada batu itu tidak begitu dalam.



“Karena bentuknya mirip lesung, jadi disebut batu lesung. Seperti lesung zaman dulu, biasanya digunakan untuk numbuk padi,” terangnya.

Warga setempat percaya, batu lesung itu merupakan benda kuno dan peninggalan nenek moyang. Sebagai benda kuno, proses pemindahan batu itu kental dengan suasana mistis.

Sebelum akhirnya batu lesung itu dipindah di halaman masjid, proses pemindahan sudah dilakukan tiga kali. Pemindahan sendiri dilakukan bertujuan untuk menyelamatkan warisan leluhur itu. Sebab jika dibiarkan di sawah, dikhawatirkan lama-lama batu itu rusak atau hilang.

Namun, pemindahan itu tak mudah. Pertama kali dilakukan, batu lesung gagal dipindah. Sebabnya, batu itu tidak bisa diangkat. Bahkan walaupun sudah puluhan orang yang mengangkat.

“Pertama, masa mbah saya. Puluhan orang tidak kuat mengangkat batu itu. Padahal , ukurannya tidak terlalu besar. Sempat terangkat saat itu, tapi hanya 100 meter. Setelah itu ditinggal, dilanjutkan besoknya. Ternyata besoknya batu itu kembali ke tempat asal,” tuturnya.

Pemindahan kedua dilakukan di masa ayahnya, sekitar tahun 1990-an. Sama seperti pemindahan pertama, batu lesung itu sulit dipindah. Sempat tidak bisa diangkat, padahal puluhan orang yang mengangkatnya.

“Akhirnya batu itu berhasil dipindah dan diletakkan di makam belakang masjid ini. Batunya diikat pakai tampar ke pohon. Tapi keesokan harinya batunya balik ke tempat semula,” lanjutnya.



Sampai akhirnya pada 2005, warga Dusun Krajan kembali berinisiatif memindahkan batu tersebut. Lokasi pemindahan dipilih halaman Masjid Ar-Rohmah.

“Saat itu saya sendiri dan 15 orang lain yang memindah. Berat sekali saat dipikul dari tempat awal. Berhasil akhirnya. Namun, yang membuat heran, saat sampai di depan masjid kok jadi ringan. Batu yang semula kalau digulingkan itu butuh empat orang, tapi di depan masjid bisa dilakukan dua orang saja,” jelasnya.

Sejak saat itu, batu lesung tersebut ada di halaman masjid. Tidak kembali ke tempat asal seperti kejadian sebelumnya.

“Mungkin tempatnya cocok, kan di masjid. Kenapa dipindah ke Masjid Ar-Rohmah ini, karena masjid ini kan warisan nenek moyang juga. Sudah berusia 100 tahun lebih. Sama dengan batu ini, peninggalan nenek moyang,” terangnya.

 

Dulu Sempat Dikeramatkan

Memang tidak ada bukti sejarah maupun keterangan jelas tentang asal muasal batu lesung yang ada di Krajan, Desa Tanjungsari, Kecamatan Krejengan. Namun, warga percaya batu itu peninggalan nenek moyang. Karena itu, harus dijaga.

“Batu ini juga sempat mau dibeli dan dibawa ke museum. Namun, tidak diperbolehkan oleh warga. Karena ini kan warisan desa sini dari pendahulu. Jadi dirawat sendiri,” terang Kasun Krajan Muhammad Saihu.

Sebelum dipindah, menurut Saihu, baru lesung ini dikeramatkan oleh warga. Sebab, banyak pengalaman mistis dirasakan warga berkaitan dengan batu itu. Misalnya saat batu masih ada di sawah, warga sekitar sering mendengar sura lesung dipalu.



“Dari jauh kedengaran ada suara ramai seperti menumbuk padi. Saat dicari asalnya, ternyata berasal dari batu ini. Bahkan, suara itu terdengar ke desa tetangga,” katanya.

Namun, seiring berjalannya waktu, batu lesung itu dinilai sebagai sisa peradaban nenek moyang. “Sekarang ya, bukan dianggap tidak keramat. Tapi, warga menilai sebagai benda kuno warisan leluhur. Anak-anak sekarang banyak yang main di dekat batu ini,” katanya.

Pelestarian batu lesung itu pun didukung Pemdes Tanjungsari. Kades Tanjungsari Suyono menyebutkan, warisan leluhur tersebut perlu dijaga. Karena itu, setahun sekali pihaknya memprogramkan ziarah ke makam-makam pendahulu desa.

“Termasuk ke batu lesung itu, kita kunjungi. Jadi memang perlu dilestarikan agar generasi berikutnya bisa terus tahu,” katanya. (agus faiz musleh/hn) Editor : Jawanto Arifin
#kecamatan krejengan #batu lesung