Sejumlah unsur masyarakat dari sektor pertanian di Kota Probolinggo, duduk bareng. Berkolaborasi dan bersinergi dalam sebuah acara “Rembuk Bareng Kolaborasi Anstisipasi Krisis Pangan di Kota Probolinggo dari Prespektif Petani Kolonial versus Petani Milenial.”
Mereka merupakan para camat se-Kota Probolinggo, kelompok tani, pemuda tani, karang taruna, hingga mahasiswa fakultas pertanian. Acara yang digelar di Ombass Cafe and Resto, Kota Probolinggo, ini menghadirkan lima orang narasumber.
Di antaranya dari Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan Kota Probolinggo Yaneke Triana; Dekan Fakultas Pertanian Universitas Panca Marga Probolinggo Retno Sulistyowati; perwakilan PT East-West Seed Jember Dhoiful Rahman; serta perwakilan PT Petrokimia Kayaku Gresik Irfan Firmansyah.
Isu terjadinya krisis pangan dipicu oleh beragam faktor. Salah satunya terjadinya perang Rusia dan Ukraina. Seperti diketahui, Ukraina merupakan pemasok terbesar kebutuhan pangan dan pupuk untuk dunia. Perang membuat harga pangan melambung tinggi, gara-gara akses terhadap pupuk jadi terkendala, sehingga sangat memengaruhi harga komoditas bahan pangan.
Indonesia sendiri merupakan negara yang luas. Dengan jumlah penduduk lebih dari 220 juta jiwa. Proporsi terbesar populasi berusia antara 10-40 tahun. Sedangkan, sektor pertanian tidak lagi menjadi primadona bagi sebagian besar angkatan kerja produktif. Hampir 60 persen pekerja sektor pertanian berusia di atas 40 tahun.
Bahkan, Badan Pusat Statistik (BPS) memperkirakan, ada 10,2 juta jiwa pengangguran terbuka di Indonesia. Sebagian besar di antaranya pemuda. Berdasarkan data BPS Tahun 2021, di Kota Probolinggo, hanya 7 persen penduduk usia produktif yang bekerja di sekor pertanian.
“Masa depan pertanian berkelanjutan terletak pada pemuda tani dan kelompok pemuda yang peduli soal pangan. Sebab, di tangan mereka dimulai “gerilya” kota dan desa untuk mewujudkan Indonesia yang berdaulat pangan,” ujar Kepala Bappeda Litbang Kota Probolingo Drs. Tartib Goenawan, M.Si.
Menurutnya, penting adanya perubahan mindset. Bahwa, bekerja di sektor pertanian sangat menjanjikan. Sebab, produk bahan pangan merupakan kebutuhan pokok utama yang tidak pernah surut dibutuhkan. Meningkatkan minat dan regenerasi sumber daya manusia pelaku sektor pertanian akan meningkatkan produktivitas bahan pangan.
“Jadi, konsepnya kita harus mulai menggalakkan urban farming. Manfaat urban farming tak hanya dari sisi kesehatan, fun learning, interaksi sosial, tapi juga nutrisi sehat hingga manfaat ekonomi,” ujarnya.
Menurutnya, implementasi urban farming tidak hanya mengandalkan petani kolonial, tapi juga petani milenial. Meski sebenarnya KRPL di Kota Probolinggo sudah jalan. Pemanfaatan pekarangan di kelurahan sudah banyak yang kurang dari sisi pemudanya. “Itulah mengapa kami melibatkan mahasiswa untuk memasyarakatkan urban farming,” katanya.
Bila keunggulan pengalaman petani kolonial dikolaborasikan dengan keunggulan responsif terhadap teknologi informasi dari petani milenial serta para stakeholder, kata Tartib, akan membuka wawasan dan pemikiran kaum muda dalam berinovasi yang bergerak dalam bidang pertanian. “Sehingga, dapat menekan pengangguran terbuka,” ujarnya didampingi Kabid Ekonomi Bappeda Litbang Kota Probolinggo Sena Setyoaji. (el/adv) Editor : Jawanto Arifin