Rupanya, semakin berkurangnya pohon randu membuat penjualan madu semakin seret. Banyak pembeli yang enggan mencicipi madu lain, selain madu randu. Sedangkan, peternak bisa menghasilkan madu kesambi dan mangga. Sesuai bunga pepohonan sebagai “pakan” lebah.
Seperti diungkapkan Supandi. Salah satu peternak lebah asal Desa Wonogoro, Kecamatan Lumbang. Pria 40 tahun itu mengatakan, kini sangat sulit mencari pohon randu. Bahkan, di Kecamatan Lumbang dan sekitarnya, sudah sangat jarang.
“Sempat cari ke luar derah. Seperti Jember, Situbondo, dan Bondowoso. Namun, kondisinya sama. Dan, lagi jika dihitung cost-nya juga mahal,” ujarnya, Minggu (13/11).
Sulitnya pohon randu membuat sejumlah peternak kesulitan untuk memberi pakan lebahnya. Karena itu, mereka mencari alternatif bunga, selain bunga pohon randu. Kebetulan di Kecamatan Lumbang juga banyak pohon kesambi dan mangga. Karena itu, para peternak rata-rata menghasilkan madu dari bunga kesambi dan mangga.
Sayangnya, kata Supandi, kondisi ini berpengaruh terhadap penjualan. Dibandingkan madu randu, peminat madu kesambi dan mangga lebih minim.
Supandi mengaku, jika madu randu kemasan 460 mililiter bisa menjual 10 botol per hari. Berbeda dengan madu kesambi atau mangga. Untuk menjual 10 botol, butuh waktu sampai sepekan lebih. “Jadi memang peminatnya lebih banyak pohon randu,” katanya.
Hal senada diungkapkan peternak lebah asal Desa Palangbesi, Kecamatan Lumbang, Rahman, 45. Menurutnya, setiap orang memiliki selera masing-masing. Namun, ketika dihadapkan dengan pilihan madu randu atau madu lainnya, seperti mangga, kesambi, ataupun madu dari pohon lain, pembeli akan memilih madu randu.
“Manisnya itu pas. Tidak legit atau terasa kemanisan yang membuat tenggorokan tidak enak,” ujarnya. (rpd/rud) Editor : Ronald Fernando