Kondisi ini dinilai sangat merugikan mereka. Sebab, seharusnya keberangkatan bus ada jarak waktu cukup panjang, kenyataannya, sering ditemukan dalam kurun waktu tiga menit, ada dua bus yang berangkat.
Kondektur dari PO Akas Green Abdul Kadir mengaku, dengan trayek abal-abal sebagai kondektur merasa dirugikan. Kondisi seperti ini membuat pihaknya, kadang harus menaik dan menurunkan penumpang dengan buru-buru.
Akibatnya, penumpang menjadi tidak nyaman. Karena tidak bisa turun atau naik dengan tenang. Jika tidak buru-buru, dikhawatirkan disalip bus lain, sehingga berdampak terhadap jumlah penumpang yang diangkut.
“Kalau trayek Probolinggo-Situbondo atau trayek Probolinggo-Bondowoso, mungkin tidak terlalu berdampak. Sebab, jarak waktu keberangkatan bisa 20 menit. Kalau trayek arah Surabaya kan berangkat lima sampai 10 menit sekali,” ujarnya.
Sebagai perwakilan dari sopir dan kondektur, ia berharap Organisasi Angkutan Darat (Organda) Kota Probolinggo dan UPT Terminal Bayuangga bisa melakukan tindakan. Sebab, hal ini bisa merugikan pendapatan sopir dan kondektur. Juga demi kenyaman penumpang.
“Kalau berangkat sesuai jadwal keberangkatan, tidak masalah. Cuma ini bisa berdekatan. Dalam tiga menit bisa dua bus. Mohon untuk ditindak, karena kami yang dirugikan,” ujarnya, Rabu (27/7).
Ketua Organda Kota Probolinggo Tommy Wahyu Prakoso mengaku belum bisa berkomentar banyak. Karena hal ini masih berupa dugaan. Apalagi, waktu keberangkatan bus sudah diatur sedemikian rupa.
“Coba kami bantu sampaikan keluhan teman-teman ke Kemenhub dan UPT Terminal Bayuangga agar bisa dicek, sehingga jelas,” ujarnya.
Terpisah, Kepala UPT Terminal Bayuangga Budiharjo mengatakan, kru Akas bisa menyampaikan langsung kepada pihaknya, PO atau jenis kendaraan yang dicurigai. Dengan begitu, bisa dicek bersama-sama agar tidak menimbulkan gejolak di lapangan.
“Tentu jika ada laporan kepada kami, bisa kami periksa armadanya. Biar kami tindak lanjuti di lapangan,” ujarnya. (riz/rud) Editor : Jawanto Arifin