Video itu diunggah akun agung-bromo731 pada 4 Juni 2022 di Instagram. Video berisi tentang kuitansi pembayaran Rp 1 juta untuk kegiatan pengambilan foto. Dalam kuitansi itu terdapat stempel Balai Besar Bromo Tengger Semeru (BB-BTS). Video tersebut juga menampilkan Surat Izin Memasuki Kawasan Konservasi atau Simaksi untuk Agung Budianto bersama lima orang lainnya selama dua hari.
Padahal, tak semua aktivitas pemotretan di kawasan BTS dikenakan biaya. Hal itu sesuai Peraturan Pemerintah Nomor 12/2014 tentang Jenis dan Tarif Penerimaan Negara Bukan Pajak yang Berlaku pada Kementerian Kehutanan.
Dalam lampiran peraturan yang ditetapkan pada 14 Februari 2014 itu disebutkan, foto, handycam, dan video komersil dikategorikan dalam Snapshot Film Komersial. Dan termasuk dalam daftar pendapatan negara bukan pajak.
Sementara biaya pengambilan foto sebesar Rp 1 juta itu hanya untuk foto konsep. Bukan untuk dikomersilkan.
Muhammad Mahmudi, salah satu penghobi fotografi mengaku mengetahui video viral soal biaya pengambilan foto konsep yang mencapai Rp 1 juta. Dirinya pun mempertanyakan aturannya. Sebab, untuk foto prewedding saja hanya membayar Rp 250 ribu.
”Jika memang ada undang-undang atau aturannya, tidak masalah. Ini hanya kegiatan foto konsep bagi penghobi fotografi,” katanya pada Jawa Pos Radar Bromo, Selasa (7/6).
Mahmudi menerangkan, foto konsep dalam kegiatan hobi fotografi yaitu foto yang memotret sisi lain dari wisata Bromo. Kemudian, hasil kegiatan itu bukan untuk dikomersil. Malahan, foto konsep tersebut ikut mempromosikan keindahan wisata Bromo.
Berbeda bila kegiatan pemotretan itu untuk pengambilan film atau sinetron yang ada nilai komersilnya. Maka, dibutuhkan Simaksi atau izin khusus dan biaya.
”Kegiatan foto konsep bagi penghobi fotografi itu sebenarnya memiliki nilai tambah tersendiri bagi warga Tengger. Selain bisa mempromosikan, juga meramaikan wisata di sana. Karena selama di sana kan menyewa kuda juga untuk foto konsep,” terangnya.
Sementara itu, Plt Kepala Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BB-TNBTS) Novita saat dikonfirmasi enggan memberikan keterangan. Novita menyarankan untuk konfirmasi ke Humas BB-TNBS Sarif Hidayat.
”Ke Pak Sarif nggih. Lagi di Bromo beliau (Sarif). Mungkin sinyal lemot atau lagi pertemuan. Tunggu saja atau WA. Satu pintu, Mas,” katanya melalui pesan singkat WhatsApp.
Sedangkan Sarif Hidayat selaku Humas BB-TNBTS belum dapat dikonfirmasi. Saat dihubungi via telepon, tak kunjung dijawab. Pesan WA pun tak direspons hingga berita ini ditulis. (mas/hn) Editor : Jawanto Arifin