Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Kue Satru Bikinan Kaum Muda di Randujalak Besuk Rambah Pasar Online

Jawanto Arifin • Senin, 11 April 2022 | 17:10 WIB
DIKEMAS: Sejumlah pekerja di salah satu rumah produksi kue satru di Desa Randujalak, Kecamatan Besuk, mengemas kue satru yang siap dipasarkan, Sabtu (9/4). (Foto: Agus Faiz Musleh/Jawa Pos Radar Bromo)
DIKEMAS: Sejumlah pekerja di salah satu rumah produksi kue satru di Desa Randujalak, Kecamatan Besuk, mengemas kue satru yang siap dipasarkan, Sabtu (9/4). (Foto: Agus Faiz Musleh/Jawa Pos Radar Bromo)
BESUK, Radar Bromo - Ramadan benar-benar menjadi berkah bagi mayoritas warga Desa Randujalak, Kecamatan Besuk, Kabupaten Probolinggo. Terutama bagi para produsen kue kering. Pesanan meroket dibanding hari-hari biasa. Kaum muda pun berperan, memasarkan secara online.

Desa Randujalak dikenal dengan sentra kue satru. Dari sekitar 1.500 jiwa, sekitar 80 persen warganya memproduksi kue kering. Salah satunya satru. Kue kering berbahan dasar kacang ijo.

Ketua Paguyuban Besuk Karya Mandiri -kelompok yang meng-handel UMKM se-Kecematan Besuk- Ike Melawati, 36, mengatakan, ada sekitar 150 kepala keluarga (KK) yang memproduksi kue satru. Mereka tersebar di semua dusun di Desa Randujalak. Meliputi Dusun Gardu, Kosambi, Giran, dan Dusun Krajan.

“Biasanya hanya produksi saat ada yang pesan. Saat Ramadan, produksi setiap hari. Rata-rata setengah sampai dua kuintal per hari,” ujar warga Dusun Gardu, Desa Randujalak ini.

Jajanan satru Desa Randujalak, sudah terkenal. Para produsen tidak kesulitan mencari pembeli. Karena, desa ini sudah lama terkenal sebagai sentra kue satru. Diawali dengan bisnis rumahan yang lestasi secara turun temurun. “Sudah dari dulu. Dari ibu sebelumnya ibu. Buyut lah. Sehingga konsumen sudah dari mana-mana,” katanya.

Dengan produksi setiap hari, sejumlah produsen bisa memperoleh omzet Rp 6 juta per hari. Tak heran, bila setiap rumah produksi juga menambah karyawan menjadi 3-7 orang.

Pernyataan Ike, diamini oleh Fatmawati, 55. Ia mengaku, selama Ramadan, setiap hari memproduksi minimal 20 kilogram kue satru. Pasarnya, juga luas. Sampai ke luar daerah. “Kalau di luar bulan puasa, hanya mengambil pesanan saja,” katanya.



Menurut Fatmawati, pesanan terhadap setiap produsen tidak sama. Ada yang sejak awal Ramadan sampai kemarin sudah memproduksi 1,5 ton satru. Produksinya terus bertambah mengikuti pesanan yang juga berdatangan.

Usaha rumahan yang telah berjalan cara turun temurun ini diyakini akan terus berlanjut. Sebab, banyak generasi muda yang turut membantu pengembangkan usaha orang tuanya. Seperti Nur Anita Devi, 26, warga Dusun Kosambi. Ia membantu usaha satru milik ayahnya Siswo, 45.

“Rata-rata, anak-anak produsen satru membantu. Baik dari produksi maupun pemasarannya. Seperti saya, jual kue hasil produksi milik orang tua ke media sosial atau secara online. Alhamdulillah lancar,” katanya.

Menurutnya, usaha “warisan” ini akan terus berjalan. Salah satunya karena sudah menjadi andalan masyarakat setempat. Banyak orang tuanya yang mewariskan cara memproduksi kue satru kepada anak-anaknya. (mu/rud) Editor : Jawanto Arifin
#kue lebaran #kue satru