Desa Randujalak dikenal dengan sentra kue satru. Dari sekitar 1.500 jiwa, sekitar 80 persen warganya memproduksi kue kering. Salah satunya satru. Kue kering berbahan dasar kacang ijo.
Ketua Paguyuban Besuk Karya Mandiri -kelompok yang meng-handel UMKM se-Kecematan Besuk- Ike Melawati, 36, mengatakan, ada sekitar 150 kepala keluarga (KK) yang memproduksi kue satru. Mereka tersebar di semua dusun di Desa Randujalak. Meliputi Dusun Gardu, Kosambi, Giran, dan Dusun Krajan.
“Biasanya hanya produksi saat ada yang pesan. Saat Ramadan, produksi setiap hari. Rata-rata setengah sampai dua kuintal per hari,” ujar warga Dusun Gardu, Desa Randujalak ini.
Jajanan satru Desa Randujalak, sudah terkenal. Para produsen tidak kesulitan mencari pembeli. Karena, desa ini sudah lama terkenal sebagai sentra kue satru. Diawali dengan bisnis rumahan yang lestasi secara turun temurun. “Sudah dari dulu. Dari ibu sebelumnya ibu. Buyut lah. Sehingga konsumen sudah dari mana-mana,” katanya.
Dengan produksi setiap hari, sejumlah produsen bisa memperoleh omzet Rp 6 juta per hari. Tak heran, bila setiap rumah produksi juga menambah karyawan menjadi 3-7 orang.
Pernyataan Ike, diamini oleh Fatmawati, 55. Ia mengaku, selama Ramadan, setiap hari memproduksi minimal 20 kilogram kue satru. Pasarnya, juga luas. Sampai ke luar daerah. “Kalau di luar bulan puasa, hanya mengambil pesanan saja,” katanya.
Menurut Fatmawati, pesanan terhadap setiap produsen tidak sama. Ada yang sejak awal Ramadan sampai kemarin sudah memproduksi 1,5 ton satru. Produksinya terus bertambah mengikuti pesanan yang juga berdatangan.
Usaha rumahan yang telah berjalan cara turun temurun ini diyakini akan terus berlanjut. Sebab, banyak generasi muda yang turut membantu pengembangkan usaha orang tuanya. Seperti Nur Anita Devi, 26, warga Dusun Kosambi. Ia membantu usaha satru milik ayahnya Siswo, 45.
“Rata-rata, anak-anak produsen satru membantu. Baik dari produksi maupun pemasarannya. Seperti saya, jual kue hasil produksi milik orang tua ke media sosial atau secara online. Alhamdulillah lancar,” katanya.
Menurutnya, usaha “warisan” ini akan terus berjalan. Salah satunya karena sudah menjadi andalan masyarakat setempat. Banyak orang tuanya yang mewariskan cara memproduksi kue satru kepada anak-anaknya. (mu/rud) Editor : Jawanto Arifin