MAYORITAS penduduk Desa Ngadisari, Kecamatan Sukapura, merupakan suku Tengger. Dikenal memiliki budaya yang khas. Yang tidak dapat hilang walaupun diterpa dengan perubahan zaman.
Rasa bangga memiliki budaya khas tersebut masih sangat tercermin dalam aktivitas sehari-hari warga setempat. Potensi itu berupaya dimaksimalkan pemerintah desa setempat dengan mewujudkan wisata budaya.
Sekretaris BUMDes Edelwis Tengger Indah Sugeng mengatakan, Pemerintah Desa melalui BUMDes akan merintis wisata budaya. Wisata ini tengah dikembangkan dengan membangun sebuah rumah adat suku Tengger di Dusun Cemorolawang, Desa Ngadisari.
Bangunan berukuran 114 meter persegi itu memiliki kerangka beton. Dilapisi dengan kayu. “Walaupun saat ini sudah masuk zaman milenial, warga sekitar Gunung Bromo. Khususnya Desa Ngadisari, masih mempertahankan budaya leluhur. Ini menjadi daya tarik sekaligus mengenalkan kearifan lokal masyarakat Tengger,” ujar Sugeng.
Hampir menyerupai mini museum. Rumah adat ini nantinya akan dijadikan sebagai bangunan induk. Dimanfaatkan sebagai tempat menyimpan barang-barang yang digunakan untuk Kasada atau media adat lainnya. Serta benda dan perabot rumah tangga.
“Benda yang ada dalam rumah adat hanya replika dan bentuknya lebih kecil. Dekat replika tersebut nantinya akan dilengkapi dengan keterangan benda dan foto aslinya,” katanya.
Selain membangun museum budaya Tengger, Sugeng menjelaskan, pengelola juga akan membuat taman edelweiss di sekitar rumah adat. Serta menanam beberapa sayur mayur yang biasa ditaman oleh warga.
Saat ini, pembangunan museum budaya ini sudah masuk 95 persen. Hanya menyisakan finishing interior bangunan. Serta, perlu menanam kembali bunga yang sebelumnya sudah rusak karena tidak terawat.
“Persiapannya sudah hampir rampung. Kami targetkan bulan Mei mendatang sudah di-launching. Mudah-mudahan dapat menjadi salah satu destinasi wisata. Tujuannya, melestarikan budaya Tengger dan kearifan lokal. Tidak hanya itu, juga menjadi salah satu sumber PADes,” harapnya. (ar/*/mie) Editor : Ronald Fernando