Kades Sepuh Gembol Kusnadi mengungkapkan, pihaknya memprioritaskan perbaikan jalan tahun ini. Sebab, sejumlah jalan desa mengalami kerusakan cukup parah. Perbaikan dilakukan dengan pengaspalan ulang dan pavingisasi menggunakan dana desa (DD).
Pengaspalan dilakukan di Dusun Saksak RT 2 hingga RT 3 di RW 2 sepanjang satu kilometer dan lebar 2,5 meter. Sebab, aspal lama sudah rusak. Terakhir kali, jalan tersebut diaspal pada 2018 yang dilakukan oleh kelompok masyarakat (pokmas). Perbaikan dilakukan dengan DD sekitar Rp 100 juta.
“Jalan rusak karena jalan setempat memang lebih rendah dari lahan pertanian yang ada di kanan kiri jalan. Sehingga saat hujan, jalan sering terendam dan membuat aspal jalan jadi cepat rusak,” ungkapnya.
Selain pengaspalan, pemdes juga berencana melakukan pavingisasi. Pavingisasi ini merupakan lanjutan dari tahun lalu. Untuk tahun ini, pavingisasi akan dilaksanakan di Dusun Krajan I RT 1 sampai RT 3 di RW 3 sepanjang 150 meter dengan lebar 2 meter. Sebab, kondisi jalan di sana masih berupa tanah.
“Kalau hujan sering becek dan tidak nyaman dilewati. Ini lanjutan dari tahun lalu di lokasi yang sama. Tahun lalu pavingisasi sepanjang 200 meter. Paving ini kami alokasikan Rp 75 juta,” sebutnya.
Pemdes juga akan memasang tembok penahan tanah (TPT) di dua titik. Yakni, di Dusun Krajan II di RT 7/RW 4 dengan tinggi 1,5 meter – 2 meter dan panjang 200 meter. Serta di Dusun Saksak di RT 3/RW 2 dengan tinggi 1,5 meter dan panjang 60 meter.
“Di dua lokasi itu sering mengalami longsor. Kebetulan ini berada di dekat lahan pertanian warga, makanya harus dipasang TPT agar tidak tergerus. Anggarannya sekitar Rp 200 juta,” terang Kusnadi.
Rehab RTLH bagi Masyarakat Tidak Mampu
Sejumlah masyarakat Desa Sepuh Gembol memiliki keterbatasan dalam ekonomi. Kondisi ini membuat mereka membangun rumah seadanya. Akibatnya, rumah yang mereka miliki ini masuk dalam kategori rumah tidak layak huni (RTLH). Pemdes berniat merehab RTLH secara bertahap.
Kades Kusnadi mengatakan, program RTLH sudah dilakukan secara rutin di desanya. Namun, khusus tahun 2020, program RTLH tidak dianggarkan. Sebab, saat itu pandemi Covid-19 sedang terjadi dengan hebat. Seluruh anggaran pun dialihkan untuk penanganan Covid-19.
Untuk tahun ini, direncanakan ada empat warga tidak mampu yang menerima program rehab RTLH. Jumlah ini naik lipat dua dibandingkan tahun 2021 yang hanya dua orang. Setiap rumah akan menerima bantuan Rp 17,5 juta.
“Jadi untuk total empat rumah sekitar Rp 70 juta dari DD. Cuma program ini masih menunggu anggaran turun dan semoga saja tidak ada pergeseran anggaran,” katanya.
Kusnadi mengaku penerima RTLH harus memenuhi sejumlah persyaratan. Di antaranya, lantai masih berupa tanah, dinding terbuat dari bamboo, hingga tidak memiliki jamban yang layak. Selama perbaikan, pemilik rumah untuk sementara pindah ke rumah tetangga atau kerabat.
“Perbaikan memakan waktu satu bulan. Kalau tahun lalu RTLH dilaksanakan di Dusun Saksak dan Krajan II, tapi kalau tahun ini direncanakan di Krajan I, Krajan II, Saksak, dan Jati,” sebutnya. (riz/hn/*)