Setiap musim hujan, masyarakat kerap khawatir saat melintas di Jalan RT 6/RW 3 Dusun Krasak, Desa Pohsangit Ngisor. Jalan ini berdekatan dengan sungai. Setiap hujan deras, sungai kerap meluber dan menggerus bibir jalan.
Tapi, itu dulu. Kini jalannya telah jauh lebih aman. Sudah kokoh. Januari lalu, Pemerintah Desa Pohsangit Ngisor, memperkuat jalan ini dengan TPT. Panjangnya sekitar 7,9 meter dengan tinggi 4,5 meter.
TPT ini dibangun sisa lebih penggunaan anggaran tahun 2021 senilai Rp 15 juta. “Kalau dibiarkan, kami khawatir akan berbahaya, karena bibir jalan sering tergerus. Kalau tidak dibangun TPT, bisa longsor,” ujar Pj Kades Pohsangit Ngisor Slamet Hermanto.
Jalan ini merupakan salah satu jalur utama roda perekonomian warga. Banyak masyarakat yang berdagang hingga menjual hasil pertanian ke luar desa dengan melintasi jalan ini. Seperti, ke Desa Tunggak Cerme dan Sepuhgembol.
Jika longsor, jalan bisa tertutup. Hal ini bisa merugikan masyarakat. Mereka harus melintasi jalan yang lebih jauh untuk keluar desa. Dengan dibangun TPT, kini masyarakat lebih aman dan nyaman melintasnya.
“Sarana dan prasarana jalan adalah roda utama perekonomian. Kenyamanan dan keselamatan warga harus selalu diupayakan,” ujar Slamet.
Penerima BLT-DD Naik Lipat Tiga
Dampak pandemi Covid-19, masih terasa. Karenanya, pemerintah masih mengalokasikan anggaran untuk bantuan langsung tunai dana desa (BLT-DD). Termasuk pemerintah Desa Pohsangit Ngisor.
Bahkan, pencairannya sudah dilakukan awal pekan lalu di balai desa. Jumlah warga yang mendapatkannya naik lipat tiga dibanding tahun kemarin.
Pj Kepala Desa Pohsangit Ngisor Slamet Hermanto mengatakan, program BLT-DD merupakan program wajib bagi setiap desa. Bahkan, setiap desa diminta mengalokasikan anggaran minimal 40 persen dari dana desa.
Tahun ini, jumlah penerima BLT-DD di Desa Pohsangit Ngosir semakin banyak. Jika pada 2021 hanya 35 keluarga penerima manfaat (KPM), tahun ini ada 108 KPM. “Setiap KPM menerima Rp 300 ribu per bulan yang dicairkan langsung tiga bulan. Kami sudah mencairkan Senin (7/3) lalu, di balai desa,” katanya.
Slamet berharap bantuan ini bisa digunakan dengan bijaksana. Setiap KPM menggunakannya untuk kebutuhan hidup sehari-hari. Seperti membeli sembako dan bukan digunakan untuk membeli kebutuhan sekunder ataupun lainnya.
“Harus dibelikan beras, minyak, atau lauk. Jangan dibelikan barang yang tidak penting. Sehingga bantuan ini benar-benar bermanfaat,” ujarnya. (riz/rud/*)