Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Jelang Imlek, Kelenteng Tri Dharma Sumber Naga Kedatangan 7 Patung Dewa

Jawanto Arifin • Sabtu, 29 Januari 2022 | 16:00 WIB
Pengurus Kelenteng yang tengah membersihkan Patung Dewa Utama. (Foto: Rizky Putra Dinasti/Jawa Pos Radar Bromo)
Pengurus Kelenteng yang tengah membersihkan Patung Dewa Utama. (Foto: Rizky Putra Dinasti/Jawa Pos Radar Bromo)
Kedatangan tujuh patung dewa yang sebelumnya terbakar menjadi kebahagiaan tersendiri bagi umat Kelenteng Tri Dharma Sumber Naga Kota Probolinggo. Apalagi dari tujuh patung baru itu, ada juga patung dewa utama.

RIZKY PUTRA DINASTI, Mayangan, Radar Bromo

Bangunan kokoh dengan mayoritas cat merah mencolok itu berdiri tegak di Jalan WR. Supratman, Kelurahan Mangunharjo, Kecamatan Mayangan, Kota Probolinggo. Itulah Kelenteng Tri Dharma Sumber Naga atau Vihara Sumber Naga yang berusia 157 tahun.

Dibangun pada tahun 1865, bangunan itu menjadi salah satu cagar budaya di Kota Probolinggo. Dan tempat ibadat untuk tiga agama dan kepercayaan bagi warga sekitar. Yaitu, Konghucu, Budha, dan Tao.

Ada tiga bangunan berbentuk huruf U di dalamnya. Bangunan di tengah merupakan bangunan induk yang berisi patung Dewa Kong Con Tan Hu Cin Jin atau dewa tuan rumah Kelenteng Tri Dharma Sumber Naga.

Pada 2019, bangunan bersejarah ini terbakar hebat. Akibatnya, bangunan utama rusak. Termasuk patung dewa tuan rumah beserta enam patung dewa yang lain.

Tentu saja, tujuh patung dewa yang rusak itu harus diganti. Namun, tidak bisa sembarangan mengganti patung dewa itu. Pengurus Kelenteng Tri Dharma Sumber Naga hanya membeli satu patung dewa untuk menggantikan patung dewa yang terbakar.

Sedangkan enam patung dewa yang lain dipesan khusus dari Jepara. Penggarapannya pun tidak sebentar. Butuh waktu 4-5 bulan baru selesai.



Dari enam patung yang dipesan, termasuk di dalamnya patung Dewa Kong Con Tan Hu Cin Jin atau dewa tuan rumah. Patung itu harus dipesan khusus, karena tidak djual di pasaran.

“Kami pesan khusus enam patung dari Jepara dengan menggunakan bahan kayu jati yang sudah berusia tua,” terang Ketua II Kelenteng Tri Dharma Sumber Naga Erfan Sujianto.

Imlek 2022 menjadi istimewa. Sebab, tujuh patung dewa itu sudah sampai di Kelenteng Tri Dharma Sumber Naga. Bahkan, Erfan menyebut 28 Februari kemarin merupakan hari bersejarah.

Karena, tidak hanya kedatangan tujuh patung dewa yang baru. Kemarin, juga ada kegiatan pembersihan dan pencucian patung dewa yang dilakukan setahun sekali menjelang Imlek. Semua patung pun dibersihkan.

“Dan di hari ini juga, semua patung akan menempati bangunan baru yang sebelumnya direnovasi akibat kebakaran pada 2019. Jadi bagi kami hari ini (kemarin, Red) merupakan hari yang bersejarah,” ucap Erfan.

Di kelenteng itu sendiri ada 15 dewa dengan lebih dari 40 patung. Mengingat satu dewa ada yang memiliki lebih dari satu patung. Bahkan, ada yang memiliki 18 patung.

Dan kemarin, semua patung dewa itu dikeluarkan untuk dimandikan. Namun, patung dewa tak bisa sembarangan dikeluarkan.



Patung dewa baru bisa dikeluarkan setelah mendapat izin terlebih dahulu dari dewa. Termasuk saat meletakkan patung dewa, tempat yang tepat harus atas seizin dewa.

“Jadi karena kami tinggal di Jawa, jadi juga ada selamatan seperti adat Jawa,” terang Erfan.

Patung dewa utama yakni Dewa Kong Con Tan Hu Cin Jin juga dibersihkan kemarin. Kemudian, patung itu diletakkan di tempat yang sudah dipilih dewa sendiri.

Sebelum diletakkan di tempat yang pas, patung dewa utama bahkan harus dipindah sampai empat kali. Sebab, Sang Dewa tak berkenan diletakkan yang tidak sesuai dengan keinginannya. Begitupun letak pengawal dewa utama, harus atas persetujuan dewa.

Untuk mengetahui dewa setuju atau tidak, petugas melakukan ritual meminta petunjuk pada dewa. Dengan menggunakan kayu puak pue, petugas selanjutnya melempar kayu itu. Jika posisi kayu terbuka, berarti sang dewa setuju dan sebaliknya.

“Jadi mulai dari proses pengeluaran, pemandian, serta meletakkan dewa itu tidak sembarangan. Kami harus minta petunjuk pada dewa. Apakah kurang geser ke kiri, kanan, dan sebagainya,” bebernya.

Bahkan, tujuh patung dewa yang terbakar sebelumnya, menurut Erfan, akan diperlakuan khusus sesuai dengan petunjuk dewa. Patung-patung yang terbakar itu akan diletakkan di belakang patung dewa yang baru.



“Jadi tidak, kami museumkan atau musnahkan. Tetap kami pakai dan diletakkan di belakang patung yang baru. Ini sesuai dengan petunjuk dewa,” tandasnya.

Erfan pun bersyukur, meski pada Imlek 2022 perayaan belum bisa dilakukan karena masih pandemi Covid-19. Namun, sudah ada patung dewa yang baru, termasuk bangunan yang baru pula. (hn) Editor : Jawanto Arifin
#kelenteng tri dharma #imlek 2022