Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Cerita Dua Rumah di Wiroborang Terisolasi karena Polemik Genangan

Jawanto Arifin • Kamis, 20 Januari 2022 | 14:55 WIB
ISOLASI: Tembok yang dibangun warga membuat dua rumah terisolasi. (Rizky Putra Dinasti/Jawa Pos Radar Bromo)
ISOLASI: Tembok yang dibangun warga membuat dua rumah terisolasi. (Rizky Putra Dinasti/Jawa Pos Radar Bromo)
MAYANGAN, Radar Bromo - Gara-gara genangan air ketika hujan, sejumlah warga di RT 2 dan RT 3/RW 6, Kelurahan Wiroborang, Kecamatan Mayangan, Kota Probolinggo, berselisih. Bahkan, warga sampai menembok jalan umum batas antara RT 2 dan RW 3. Dampaknya, dua rumah terisolasi.

Dua rumah yang terisolasi itu milik Anik Susanti dan Imam. Mereka tinggal di RT 2/RW 3. Kini, bila hendak menuju jalan raya, mereka harus melintas di jalan setapak. Dulu, ketika masih akur, mereka bisa melintas dengan nyaman di jalan umum depan rumahnya.

Salah seorang warga RT 2, Anton, 37, mengatakan, tembok setinggi sekitar 2 meter itu dibangun pada awal Desember 2021. Pembangunannya sudah disetujui oleh RT-RW untuk menghindari perselisihan.

Awalnya, perselisihan terjadi ketika Anik, membuat polisi tidur cukup tinggi di jalan batas RT. Maksudnya, agar air hujan tidak mengalir dan menggenang di halaman rumahnya. “Jalan ini satu jalur. Namun, tembok itu batas RT. Di sini (selatan tembok) RT 2 dan utara tembok RT 3,” ujarnya.

Karena satu jalur, ketika hujan air dari selatan mengalir ke utara. Ternyata, air menggenang di halaman rumah Anik dan Imam. Dua rumah ini berada di bagian utara. “Bu Anik membuat polisi tidur sekitar tujuh bulan lalu,” ujar Anton.

Dengan adanya polisi tidur, akhirnya ketika hujan air menggenang di daerah permukiman warga di RT 2. Warga pun membobol sebagian polisi tidur agar air bisa mengalir. Tetapi, Anik marah. “Saya izin mau dikasih paralon agar airnya mengalir dan dibuang ke sawah pemerintah, juga tidak boleh. Akhirnya warga geram,” jelasnya.

Buntutnya, warga bersama pihak RT sepakat membangun tembok antara batas perumahan atau kavlingan dengan rumah Anik dan Imam. Warga juga membuat 14 titik resapan air. “Warga kavlingan urunan Rp 350 ribu setiap rumah.,” ujar Anton.



Setelah dipagar, Anik kebingungan. Jalan utamanya tertutup tembok. Sudah beberapa kali dimediasi, selalu gagal. “Sebetulnya warga mau membongkarnya. Dengan syarat, Bu Anik minta maaf kepada warga. Juga mengganti biaya yang telah dikeluarkan warga untuk membangun tembok dan sumur resapan,” ujar Anton diamini warga lainnya.

Terpisah, Anik mengatakan perselisihan itu terjadi sejak 1997. Diawali dari rumah di samping kirinya. Saluran pembuangan air dari talang rumah itu tidak menggunakan paralon. Ketika hujan, airnya menerjang dinding rumah Anik.

“Kalau satu-dua hari tidak masalah. Tapi, jika tahunan tembok saya bisa rusak. Benar saja, tembok saya retak,” ujarnya didampingi suaminya, Handoko Purnomo, 50. Tidak mau bertengkar dengan tetangga, Anik memilih membuat dinding baru.

Anik mengaku juga mendapatkan perlakuan berbeda dari pemerintah. Katanya, jalan yang tembus ke depan rumahnya pernah diaspal. Tapi, ternyata hanya sampai di batas RT 2. Karenanya, jalan di depan rumanya jauh lebih rendah.

“Dua kali dilakukan pengaspalan. Akhirnya, lebih tinggi yang selatan. Ketika hujan, depan rumah tergenang,” ujarnya.

Demi mengatasi genangan, Anik bersama tetanganya, Imam urunan. Mereka menguruk jalan di depan rumahnya agar tak tergenang. Terhitung sudah empat kali diuruk. “Tapi, karena kami tidak punya uang, tidak ditambah sirtu atau batu dan sebagainya,” ujarnya.

Namun, urukan itu kemudian terbawa air yang datang dari RT 2. Agar tidak semakin parah, Anik berinisitif membuat polisi tidur. “Sudah saya sampaikan jika pihak kompleks harus membangun sumur resapan juga. Jika resapan tidak mampu karena air terlalu banyak, tidak apa-apa airnya ke sini. Namanya juga air, mau gimana lagi,” ujarnya.



Namun, rupanya warga RT 2 memilih membangun tembok pembatas. Karenanya, keluarga Anik dan Imam terisolasi. “Sudah beberapa kali dilakukan mediasi. Mereka minta saya ganti rugi biaya pembangunan tembok dan resapan. Saya uang dari mana,” ujarnya.

Ia berharap tembok itu dibongkar. Sebab, jalan ini merupakan akses satu-satunya menuju rumahnya. “Ada jalan setapak milik pribadi. Itu hanya cukup satu motor saja. Saya berharap temboknya dibongkar,” ujarnya. (rpd/rud) Editor : Jawanto Arifin
#banjir probolinggo #genangan probolinggo