Yati kebingungan. Dia pun sempat kembali ke toko yang menjual kasur busa. Sayang, tak ada yang mengenal tukang betor.
Insiden itu bermula saat Yati berkunjung ke rumah anaknya di Desa Patalan, Kecamatan Sumberasih. Selasa (14/12) sekitar pukul 10.00, Yati pergi ke pasar untuk membeli kasur busa.
“Rumah saya di Pasuruan. Saat ini tinggal di rumah anak yang di Patalan. Saya mau beli kasur dan mau ditaruh di Patalan. Motor saya parkir dan titipkan di Terminal Bayuangga. Selanjutnya naik kendaraan umum untuk mencari kasur,” terangnya.
Usai mencari di sejumlah toko, perempuan berhijab itu ada yang cocok dan deal di salah satu toko yang berada di depan Pasar Baru, Kota Probolinggo. Dia membeli kasur busa seharga Rp 700 ribu.
“Oleh karyawan tokonya dicarikan betor untuk membawa kasur busanya. Nah, setelah kasurnya dinaikkan ke betor, saya juga naik betor yang sama menuju terminal untuk mengambil motor saya,” terangnya.
Saat sampai di terminal, Yati turun dari betor dan menuju parkiran untuk mengambil motornya. Rupanya, ketika ia hendak mengambil motor tersebut, betor yang membawa kasur itu pun langsung tancap gas ke arah utara.
“Saya panggil dan teriak-teriak. Tapi betornya melaju terus. Saya minta tolong orang orang, tapi saat itu sepi. Tak lama setelah itu ada tukang ojek. Setelah saya ceritakan saya naik ojek untuk mengejar betor tersebut. Namun sudah kehilangan jejak. Akhirnya saya kembali ke tokonya lagi. Tapi pihak tokonya pun juga tidak tahu. Katanya (karyawan toko, Red) hanya mencarikan betor untuk membawa kasurnya itu,” ucapnya.
Yati mengaku kebingungan. Baginya, uang Rp 700 ribu tidak mudah ia dapatkan. “Selain kasur busa yang dibawa seharga Rp 700 ribu, saya juga sudah bayar ongkosnya (jasa betor) Rp 50 ribu,” terangnya. Yati belum tahu apakah dia akan melapor ke polisi atau tidak.
Sementara itu Sanimo, 55 tukang becak yang biasa mangkal di Pasar Baru menerangkan bahwa betor tersebut merupakan orang kabupaten. Dimungkinkan, insiden yang dialami Yati hanya salah paham saja. Sehingga ia meminta agar nomor handphone Yati, ditaruh di toko tersebut. Supaya jika nanti bertemu, Yati bisa dihubungi.
“Itu (tukang betor, Red) sudah biasa mangkal di sini (Pasar Baru). Teman saya yang kenal namanya. Sekarang teman saya lagi antar orang juga. Sepertinya miss saja. Mungkin tukang betornya juga muter-muter mencari ibu itu. Barangnya tidak mungkin hilang. Jadi ibunya saya suruh taruh nomor HP-nya di toko itu saja. Nanti kalau orangnya (tukang betor) datang, saya suruh hubungi. Orangnya biasa mangkal di sini kok,” kata Sanimo. (rpd/fun) Editor : Jawanto Arifin