Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Kembangkan Pertanian Sistem Permaculture di Sukapura, Seperti Apa?

Fandi Armanto • Jumat, 9 April 2021 | 16:17 WIB
PERMACULTURE: Bupati Probolinggo P. Tantriana Sari berkeliling di lokasi permaculture, di  Desa Ngepung, Kecamatan Sukapura, Kamis (8/4) pagi. (Foto Jamaludin/Jawa Pos Radar Bromo)
PERMACULTURE: Bupati Probolinggo P. Tantriana Sari berkeliling di lokasi permaculture, di Desa Ngepung, Kecamatan Sukapura, Kamis (8/4) pagi. (Foto Jamaludin/Jawa Pos Radar Bromo)
SUKAPURA, Radar BromoPertanian dengan sistem permaculture (permanent agriculture) mulai dikembangkan di Kabupaten Probolinggo. Sistem yang menerapkan pertanian dengan tatanan kehidupan yang lestari dan berkelanjutan tersebut, dikembangkan di Desa Ngepung, Kecamatan Sukapura. Kabupaten Probolinggo menjadi lokasi keempat di Indonesia yang menerapkan permaculture.

Sejauh ini permaculture di Desa Ngepung dilakukan di zona 1 dengan luas lahan sekitar 1 hektare yang merupakan tanah kas desa (TKD). Pengelolaannya dilakukan oleh kelompok tani (Poktan) Baper Progresif (Bromo Authentic Permaculture Probolinggo Green Sustainability Integrated Farming)

“Saat ini pengembangannya kita mengelola zona satu dulu. Di situ ada tempat atau area bibit, rumah kompos, lahan pekarangan keluarga untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari hingga area perkemahan. Ibarat sebuah keluarga disini juga ada rumah. Tapi bentuknya gazebo yang juga dilengkapi toilet,” ujar Wahyu Irawan Ketua Poktan Baper Progresif.

Menurutnya, untuk pengembangan permaculture itu, akan digarap bertahap melalui zona-zona. Petak petak tanah disiapkan untuk sejumlah area. Diantaranya area kebun bumbu, area kebun sayur, area kebun buah hingga area perikanan dan peternakan di zona dua. Termasuk nantinya ada area pembangkit listrik tenaga mikrohidro di zona lima.

“Kelompok tani Baper Progresif sendiri hanya menyiapkan etalase. Untuk kebun produksinya, nanti dengan kami kembalikan ke masyarakat dan desa,”katanya.

Photo
Photo
LUAS: Pertanian ini memiliki luas lahan sekitar 1 hektare. (Foto Jamaludin/Jawa Pos Radar Bromo)

            Wahyu menjelaskan, pengembangan permaculture di Desa Ngepung, dilakukan dengan konsep pertanian terintegrasi. Yakni dengan sektor peternakan, perikanan hingga pertanian organik. “Rencananya nanti, juga akan dikembangkan pusat edukasi wisata untuk warga Desa Ngepung, masyarakat umum hingga mancanegara,” katanya.

Sistem permaculture yang diinisiasi oleh Forum Kabupaten Probolinggo Sehat (FKPS) dan PT Pomi-Paiton Energy itu, mendapat apresiasi dari Bupati Probolinggo, P. Tantriana Sari. Menurutnya, hadirnya permaculture sangat relevan dengan sejumlah isu saat ini. Seperti terkait kedaulatan pangan dan kemandirian pangan, serta terkait kelestarian alam.

“Dengan adanya permaculture ini banyak sekali cita-cita kami untuk pengembangannya. Tentunya, bersama dengan seluruh OPD kami akan terus melakukan komunikasi dan kolaborasi, sehingga tujuan kedaulatan pangan, kemandirian pangan dan kelestarian alam bisa diwujudkan melalui permaculture ini,” katanya.

Tantri juga berharap, hadirnya permaculture ini juga bisa mendongkrak wisatawan yang berkunjung ke Kabupaten Probolinggo. Sebab, menurutnya saat ini masyarakat lebih cenderung memilih kembali ke alam untuk berwisata.

“Kami patut bersyukur, karena dengan adanya permaculture ini, ada tambahan satu lagi objek wisata yang hadir. Objek wisata edukasi ini menjadi pendukung objek wisata Bromo dan sekitarnya,” katanya saat meresmikan permaculture Desa Ngepung, kemarin. (uno/fun)

  Editor : Fandi Armanto
#pemkab probolinggo #pertanian permaculture #pertanian kabupaten probolinggo