Sejauh ini permaculture di Desa Ngepung dilakukan di zona 1 dengan luas lahan sekitar 1 hektare yang merupakan tanah kas desa (TKD). Pengelolaannya dilakukan oleh kelompok tani (Poktan) Baper Progresif (Bromo Authentic Permaculture Probolinggo Green Sustainability Integrated Farming)
“Saat ini pengembangannya kita mengelola zona satu dulu. Di situ ada tempat atau area bibit, rumah kompos, lahan pekarangan keluarga untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari hingga area perkemahan. Ibarat sebuah keluarga disini juga ada rumah. Tapi bentuknya gazebo yang juga dilengkapi toilet,” ujar Wahyu Irawan Ketua Poktan Baper Progresif.
Menurutnya, untuk pengembangan permaculture itu, akan digarap bertahap melalui zona-zona. Petak petak tanah disiapkan untuk sejumlah area. Diantaranya area kebun bumbu, area kebun sayur, area kebun buah hingga area perikanan dan peternakan di zona dua. Termasuk nantinya ada area pembangkit listrik tenaga mikrohidro di zona lima.
“Kelompok tani Baper Progresif sendiri hanya menyiapkan etalase. Untuk kebun produksinya, nanti dengan kami kembalikan ke masyarakat dan desa,”katanya.
Wahyu menjelaskan, pengembangan permaculture di Desa Ngepung, dilakukan dengan konsep pertanian terintegrasi. Yakni dengan sektor peternakan, perikanan hingga pertanian organik. “Rencananya nanti, juga akan dikembangkan pusat edukasi wisata untuk warga Desa Ngepung, masyarakat umum hingga mancanegara,” katanya.
Sistem permaculture yang diinisiasi oleh Forum Kabupaten Probolinggo Sehat (FKPS) dan PT Pomi-Paiton Energy itu, mendapat apresiasi dari Bupati Probolinggo, P. Tantriana Sari. Menurutnya, hadirnya permaculture sangat relevan dengan sejumlah isu saat ini. Seperti terkait kedaulatan pangan dan kemandirian pangan, serta terkait kelestarian alam.
“Dengan adanya permaculture ini banyak sekali cita-cita kami untuk pengembangannya. Tentunya, bersama dengan seluruh OPD kami akan terus melakukan komunikasi dan kolaborasi, sehingga tujuan kedaulatan pangan, kemandirian pangan dan kelestarian alam bisa diwujudkan melalui permaculture ini,” katanya.
Tantri juga berharap, hadirnya permaculture ini juga bisa mendongkrak wisatawan yang berkunjung ke Kabupaten Probolinggo. Sebab, menurutnya saat ini masyarakat lebih cenderung memilih kembali ke alam untuk berwisata.
“Kami patut bersyukur, karena dengan adanya permaculture ini, ada tambahan satu lagi objek wisata yang hadir. Objek wisata edukasi ini menjadi pendukung objek wisata Bromo dan sekitarnya,” katanya saat meresmikan permaculture Desa Ngepung, kemarin. (uno/fun)
Editor : Fandi Armanto