Sejak tiga bulan terakhir, harga cabai rawit di Kota Probolinggo terus melambung. Bahkan, kemarin masih di atas Rp 100 ribu per kilogram. Melambungnya harga cabai rawit ini, karena tidak ada stok yang masuk ke pasar dari sentra cabai rawit di wilayah Probolinggo. Saat ini rata-rata pedagang menerima pasokan dari Surabaya.
“Biasanya saya ambil langsung dari petani di Bantaran. Tapi sekarang tidak ada yang tanam. Jadi, terima dari pedagang cabai. Pedagang ambil dari Surabaya,” ujar pedagang di Pasar Baru Kota Probolinggo Sueb.
Selama ini ada dua wilayah di Kabupaten Probolinggo yang sering memasok cabai ke Kota Probolinggo. Kecamatan Bantaran dan Kecamatan Leces. Ternyata, kini lahan yang biasanya ditanami cabai masih digunakan untuk tanaman padi dan jagung.
Ada juga yang ditanami cabai rawit, namun sudah rusak. Batang dan daunnya telah mengering. Bahkan, ada yang sudah dicabut untuk diganti tanaman lainnya. “Kalau sekarang tidak ada yang menanam cabai rawit. Yang banyak jagung dan padi. Belum musim. Kalau menanam sekarang bisa rusak, soalnya masih musim hujan,” ujar warga Desa Besuk, Kecamatan Bantaran, Naver, 65.
Tidak hanya di Kecamatan Bantaran yang dikenal sebagai daerah sentra cabai rawit, di Kecamatan Leces, terutama di Desa Warujinggo, juga jarang yang menanam cabai. Padahal, di desa ini biasanya banyak petani yang membudi daya cabai.
Petani Desa Warujinggo, Tohib, 30, mengaku sempat menanam tanaman hortikultura, seperti cabai rawit dan tomat. Namun keduanya sama-sama rusak. “Tomatnya kena hama, makanya kering. Kalau cabai rawit memang sudah rusak karena kena hujan,” ujarnya.
Meski kini harga cabai rawit mahal, Tohib mengaku tidak tertarik untuk segera menanamnya. Lahan yang sebelumnya ditanami cabai, rencananya akan ditanami jagung. “Tidak bisa segera ditanami cabai lagi. Sebentar lagi ditanam jagung. Baru setelah jagung bisa ditanam cabai rawit. Ini supaya tanamannya kuat,” jelasnya.
Menurrutnya, tanaman cabai rawit yang rusak di musim hujan, biasanya juga terkena penyakit. Jika langsung ditanam cabai lagi, dikhawatirkan penyakitnya masih ada. “Makanya diselingi jagung. Meski sekarang harga cabai rawit mahal, tanamannya tidak berubah. Daripada tergesa-gesa menanam mengejar harga, tapi hasilnya tidak sesuai harapan, kan percuma,” ujarnya. (put/rud) Editor : Jawanto Arifin