Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Cabai Rawit Kering dari India Laris Diburu, Harganya Segini

Jawanto Arifin • Sabtu, 27 Maret 2021 | 15:45 WIB
DIKEMAS PLASTIK: Cabai kering impor dari India yang dijual pedagang di Pasar Besar Probolinggo. (Foto: Ridhowati Saputri/Jawa Pos Radar Bromo)
DIKEMAS PLASTIK: Cabai kering impor dari India yang dijual pedagang di Pasar Besar Probolinggo. (Foto: Ridhowati Saputri/Jawa Pos Radar Bromo)
KANIGARAN, Radar Bromo - Mahalnya cabai rawit membuat harga produk pengganti laris diburu konsumen. Salah satunya adalah cabai rawit kering. Belakangan cabai rawit yang diimpor dari India ini banyak dibeli konsumen karena harga jual lebih murah.

Khusnawiyah, pedagang Pasar Baru Probolinggo mengatakan, dengan harga cabai rawit per kg Rp 120 ribu, orang mulai beralih ke cabai kering. “Cabai kering ini didatangkan dari India,” ujarnya.

Jika dibandingkan harga cabai rawit, harga cabai kering jauh lebih murah. Dengan harga Rp 70 ribu per kg. “Harga cabai kering lebih murah, namun jauh lebih pedas daripada cabai rawit biasa. Harganya juga lebih murah. Jadi orang jual bakso, cilok banyak yang ambil ini buat sambalnya,” ujarnya.

Namun tidak semua pembeli, menjadikan cabai rait kering ini sebagai alternatif. “Kalau untuk penjual gorengan, tetap ambil cabai rawit hijau. Harganya sekarang Rp 40-50 ribu per kg,” ujarnya.

Hal senada juga juga diungkapkan Sueb, pedagang Pasar Baru yang menempati TPS. Menurutnya, harga jual cabai rawit sudah sangat mahal bahkan melebihi harga daging sapi.

“Banyak yang beli cabai rawit kering India. Bisa sehari jual 10 kilogram cabai rawit kering. Biasanya yang beli ini penjual bakso atau pedagang yang menggunakan sambal untuk campuran sambal,” ujarnya.

Cabai rawit kering ini bisanya dikemas dalam kemasan plastik. Warnanya juga merah dan lebih tahan lama.

Sementara itu Hasan, 40, salah satu pembeli mengaku, dia memilih menggunakan cabai rawit kering untuk bahan sambalnya. Hal ini karena harga cabai rawit yang melesat melebihi harga daging sapi.

“Dulu campuran untuk sambal, 30 persen cabai rawit kering, 70 persen cabai rawit. Sekarang 70 persen cabai rawit kering, sisanya cabai rawit segar. Dibalik bahannya. Mau gimana? harganya mahal sekarang,” keluh pria yang seharinya penjual bakso ini.

”Tapi alhamdulillah, konsumen langganan tidak ada yang protes dari rasa sambalnya,” tambahnya. (put/fun) Editor : Jawanto Arifin
#harga cabai #cabai mahal