Hal ini diungkapkan Ketua PC Fatayat NU Kota Probolinggo Nur Hudana. Menurutnya, dari pantauan kepada pelaku UMKM, di masa pandemi serta perubahan teknologi digital, sulit dalam hal pemasaran. “Sekarang sedang tren online, di sisi lain masih banyak yang minim dengan pengetahuan IT (informasi teknologi),” ujarnya, Minggu (14/3).
Mantan anggota DPRD Kota Probolinggo ini menilai, dengan situasi saat ini, tidak bisa lagi hanya melakukan pemasaran secara manual. Perlu gebrakan atau cara-cara baru untuk meningkatkan penjualan.
Pernyataan serupa disampaikan Ketua Komisi VI DPR RI Faisol Riza. Menurutnya, perubahan itu tidak bisa ditolak dan pasti akan datang. “Pemerintah sudah aware atau sadar dalam menghadapi era distrub. Bisa melalui kelompok-kelompok perempuan seperti Fatayat, Muslimat, untuk memberdayakan sumber daya yang mereka miliki untuk menggali potensi-potensi bagi UMKM,” ujarnya.
Menurutnya, harus diakui, saat ini UMKM menghadapi tekanan. Namun pemerintah bisa membantu meningkatkan bantuan permodalan atau akses perkreditan, sehingga kemungkinan bisa mendorong UMKM untuk masuk ke pasar ekspor.
Namun tidak semua pelaku UMKM bersedia masuk pasar online atau digital. Keengganan ini terjadi karena harus menggunakan gadget saat seharusnya bisa melakukan pekerjaan lain. “Sudah ada tawaran untuk ikut ojek online, tapi saya belum mau ikut. Ribet kalau harus melayani pembeli online, belum masak, belum buka HP (handphone),” ujar salah seorang penjual nasi goreng, Sholihin, 45.
Ia mengakui dengan mengandalkan penjualan secara manual, pendapatannya sangat bergantung pada orang yang datang ke lapaknya. Saat kondisi tertentu seperti hujan bisa sepi pembeli. “Gak apa-apa. Itu risiko orang berjualan kalau sepi pembeli,” ujarnya. (put/rud) Editor : Jawanto Arifin