Alasannya, kebanyakan yang ditemui Jawa Pos Radar Bromo, area di ujung pelabuhan ini banyak terdapat ikan. Sehingga para pehobi mancing, nekat menerobos pagar dan memilih mencuri kesempatan untuk masuk dan bisa memancing di lokasi itu.
Seperti yang dijelaskan Karman, 50. Pemancing asal Kelurahan Wiroborang, Kecamatan Mayangan, Kota Probolinggo ini, kemarin terlihat memancing di ujung pelabuhan. Saat tiba di lokasi pemancingan yang berada di PPP Mayangan, dia dikejutkan dengan pemasangan pagar tambahan.
Menurutnya, pagar yang dipasang hanya sampai area datar. Atau tidak sampai turun ke plengsengan hingga ke tepi laut. “Pagar ini baru. Biasanya hanya sampai pagar biru itu saja. Jadi saya dan juga teman lainnya masih bisa lewat. Nah, sekarang pagarnya ditambahin sampai ke bawah, ya terpaksa saya pilih tempat lain saja,” katanya.
Pehobi mancing itu menuturkan bahwa ikan di ujung, jumlahnya jauh lebih banyak. Selain itu juga ia tidak perlu menyewa kapal untuk ke tengah laut. “Jika pehobi seperti saya yang bisa dibilang warga pas-pasan, sewa kapal kan butuh biaya lagi. Jadi saya pilih mancing di ujung. Saya sering mancing di ujung. Kadang satu minggu sampai 3 kali,” katanya.
Meski ia memutuskan untuk mencari lokasi lain lantaran ditutup, Karman mengaku, sejatinya banyak yang memilih tetap melewati pagar. Caranya yakni turun ke bawah plengsengan. Selanjutnya berpegangan ke pagar.
Seperti yang dilakukan Sukron, 19, remaja asal Kecamatan Kanigaran. “Katanya di ujung pelabuhan, ikannya lebih banyak. Saya baru pertama ke sini (Pelabuhan, Red). Biasanya saya mancing di Pantai Permata. Meski dipagar, tapi kan masih bisa lewat samping mas, dan banyak juga yang mancing,” katanya, Jumat (5/3) siang.
Menyikapi hal itu Kepala Seksi Pelayanan Teknis Pelabuhan pada PPP Mayangan Arif Wahyudi menerangkan, dari awal Kawasan ujung Pelabuhan harus steril dari masyarakat umum. Bahkan sudah dipasang papan larangan, termasuk pagar.
Namun lantaran masih banyak yang masuk dengan cara berpegangan ke pagar dan memutarkan tubuhnya. Maka pagarnya ditambah hingga turun ke plengsengan. Dengan demikian, jika masih ada melanggar, maka pihak pelabuhan tidak bertanggung jawab jika terjadi risiko pada pemancing tersebut. Selain itu ia akan berupaya untuk melakukan pemantauan dengan sistem sidak untuk memberikan teguran kepada sejumlah pemancing yang tetap melanggar.
“Jika masih melanggar, nanti tiga atau dua kali dalam seminggu, kami akan lakukan sidak. Serta memberikan peringatan kepada pemancing tersebut. Yang jelas jika terjadi peristiwa pada pemancing tersebut kami yang sebelumnya sudah memberikan pagar dan papan imbauan, kami tidak bertanggung jawab,” katanya. (rpd/fun) Editor : Jawanto Arifin