Kecelakaan maut itu terjadi Kamis (17/12) sekitar pukul 11.20. Menurut petugas Polisi Khusus Kereta Api (Polsuska) Daop 9 Jember M. Halil menerangkan, Hanifah siang itu berjalan sendirian di tengah rel dari arah barat ke timur.
Di waktu yang sama, kereta api Sri Tanjung dari arah stasiun Probolingo menuju Surabaya melintas dari arah timur ke barat. “Menurut keterangan sejumlah warga. Ibu ini jalanya seolah linglung. Dari timur ke barat dan dari barat ketimur lagi. Nah, saat berjalan dari barat ketimur ia melihat ada kereta dari arah berlawanan. Sehingga korban berusaha menghindar ke arah barat,” kata Halil.
Korban yang berusaha mengghindar dengan cara berbalik arah menuju barat melewati jembatan kecil rupanya tidak sampai keluar jalur. Akibatnya, korban pun tertabrak dari arah belakang. Korban lantas terpental sekitar 4 metere dari titik benturan awal.
Akibatnya fatal. Hanifah alami luka parah pada kepalanya. Ia pun meninggal di lokasi kejadian. “Kami tidak tahu, korban ini depresi atau bagaimana? Bahkan sebelum kejadian itu ada dua orang pemancing di belakang taman manula yang sempat meneriakinya agar menghindar,” tambah Polsuska itu.
Jenazah korban kemudian dievakuasi ke kamar jenazah RSUD dr. Moh. Saleh Kota Probolinggo, setelah petugas Satlantas Polres Probolinggo Kota dan Polsuska Daop 9 tiba di lokasi kejadian.
Kanit Laka pada Satlantas Polresta Probolinggo Ipda Tohari menduga, korban alami depresi. Pasalnya korban mondar mandir di rel kereta api. Selain itu juga, korban merupakan orang jauh, dari Situbondo.
“Mungkin depresi, soalnya ia berjalan mondar mandir di tengah rel. Selain itu setelah dilihat KTP yang dibawanya ternyata orang Situbondo,” kata Ipda Tohari.
Untuk selanjutnya, kasus kecelakaan itu dilimpahkan ke Polsek Mayangan. “Karena ini laka sebidang, maka kami serahkan ke polsek setempat. Kebetulan ini masuk wilayah Polsek Mayangan,” tandas Ipda Tohari.
Sampai pukul 16.00, belum ada keluarga yang datang untuk mengambil jenazah korban. (rpd/mie)
Editor : Muhammad Fahmi