----------------------------------------------
SETIAP sore sejak awal Ramadan ada pemandangan tak biasa di sepanjang jalan Panglima Sudirman Kota Probolinggo. Tepatnya, mulai dekat Hotel Ratna sampai depan SMPK Mater Dei. Setiap sore, selalu muncul deretan tukang becak dan warga lanjut usia (lansia) dengan menggunakan sepeda onthel menunggu di tepi jalan.
Salah satunya Muhammad, 40, tukang becak asal Kelurahan Kebonsari Kulon, Kecamatan Kanigaran, Kota Probolinggo. Ia mengungkapkan, saat ini pekerjaannya sulit untuk mendapatkan penghasilan. Penumpang semakin jarang. “Saat situasi normal saja yang naik becak sedikit. Sekarang ada wabah korona, malah gak dapat penumpang sama sekali. Orang sudah punya sepeda motor sendiri itu,” ujarnya.
Kadang, dalam sehari, bapak dua anak ini bisa mendapat Rp 10.000 sampai Rp 15.000. Namun, kadang juga tidak dapat sama sekali karena tidak ada penumpang. “Ini saya nunggu, barangkali sore ini ada yang bagi-bagi takjil. Lumayan bisa bantu makan buka puasa buat keluarga,” ujarnya, Selasa (5/5).
“Tahun lalu masih enak dapat nasi kotak dan takjil dari Pemkot, bisa buat makan sekeluarga. Sekarang ndak ada lagi, akhirnya ya nunggu dari warga,” lanjutnya. Sayang, tidak setiap hari ada kegiatan bagi-bagi makanan dari warga. Sehingga, Muhammad kadang pulang dengan hanya membawa hasil kerja tanpa makanan.
Tak hanya Muhammad yang berharap bagi-bagi takjil. Seorang kakek bernama Bahrudin, 65, yang saban hari bekerja mencari barang bekas dari rumah ke rumah, termasuk di dalamnya. Alasannya, pendapatan hariannya kadang tidak cukup besar untuk makanan berbuka puasa.
“Sehari dapatnya kadang cuma Rp 10 ribu dari jual barang bekas, ndak tentu. Ini juga kadang ndak cukup buat beli makanan buat buka. Makanya, saya menunggu di sini barangkali ada yang bagi-bagi takjil,” ujarnya, ketika ditemui di Jalan Panglima Sudirman, Kota Probolinggo, Selasa (5/5).
Bahrudin mengaku sudah tidak memiliki keluarga lagi. Sehingga, hasil kerjanya hanya digunakan untuk makanan dirinya sendiri. “Dulu setiap mau buka puasa saya ke depan Pemkot dapat takjil. Tapi, sekarang ndak ada lagi. Semoga ada dari warga yang mau berbagi,” ujarnya, penuh harap.
Tidak adanya bag-bagi takjil dari Pemkot Probolinggo, dibenarkan oleh Plt Kabag Umum Pemkot Probolinggo Ferdhiansyah Donny Anggara. Katanya, tahun ini kegiatan bagi-bagi takjil ke masyarakat umum saat menjelang berbuka puasa memang ditiadakan. Hal ini tidak lepas karena ada pandemi wabah korona.
“Anggaran mamin (makanan dan minuman) di Bagian Umum terkena recofusing untuk penanganan Covid-19. Kalau besarannya lupa yang dialihkan. Selain itu, juga peniadaan bagi-bagi takjil untuk menghindari kerumunan masyarakat yang pasti akan terjadi saat bagi-bagi takjil berlangsung,” ujarnya.
Kegiatan bagi-bagi takjil dan makanan berbuka puasa sudah sering dilakukan di Pemkot Probolinggo, saat Ramadan. Termasuk, tahun kemarin masih digelar. “Kegiatan bagi-bagi takjil sebenarnya bukan khusus warga tidak mampu, tapi bagi mereka yang aktivitas bekerjanya banyak di jalan. Seperti, tukang becak dan petugas persampahan. Tahun depan masih belum tahu apakan masih diadakan,” ujarnya. (ridhowati saputri/rud)
Editor : Muhammad Fahmi