Kepala Bidang Mitigasi Gunung Api di Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG)-Badan Geologi Kementerian ESDM Hendra Gunawan membenarkan adanya peningkatan aktivitas Gunung Bromo. Menurutnya, terekam getaran tektonik jauh dua kali, amplitudo 9-12 mm, S-P: 17-19 detik, dengan durasi sekitar 66-70 detik.
Meski demikian, peningkatan aktivitas itu tidak sampai menimbulkan erupsi. Karena itu, status Gunung Bromo tetap. Yaitu, di posisi waspada level II. Gunung Bromo menurutnya, tetap aman dikunjungi wisatawan.
”Memang ada peningkatan aktivitas di Gunung Bromo. Tapi, tetap aman. Hanya masyarakat dan pengunjung tetap dilarang naik ke radius 1 kilometer dari Gunung Bromo,” katanya.
Lebih lanjut, dijelaskan Hendra, peningkatan aktivitas Gunung Bromo terekam pada asap yang keluar dari kawah Bromo. Biasanya, tiap hari ketinggian asap yang keluar dari kawah Gunung Bromo mencapai 200 meter dari puncak. Namun, sejak dua hari terakhir, ketinggian asap mencapai 700 meter dari puncak.
”Gempa tremor tetap terus menerus (microtremor) terekam dengan amplitudo 0.5-1 mm dan dominan 1 mm. Inilah bedanya gunung api lain dengan Bromo. Gunung Bromo ada tremornya,” ungkapnya.
Hendra juga tidak menampik adanya gempa tektonik. Getaran akibat tekanan tektonik dengan amplitudo 9-12 mm, S-P 17-19 detik, perkiraan durasi 66-70 detik.
Namun, tekanan tektonik ini menurutnya bukan berasal dari kawah Bromo. Tetapi, dari lempengan dalam bumi.
”Getaran tektonik rata-rata ada terus. Dan sumbernya jauh sekali dari gunung. Jadi tetap aman,” ujarnya. (mas/hn) Editor : Jawanto Arifin