Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Duka Keluarga Dua Anggota Komunitas Motor yang Jadi Korban Kecelakaan Tongas

Jawanto Arifin • Selasa, 5 November 2019 | 16:20 WIB
Photo
Photo
Kesedihan masih terasa saat Jawa Pos Radar Bromo sambang ke rumah keluarga Mohamat Apdolla, 23, dan Fathulloh, 18. Keduanya merupakan warga Dusun Krajan RT 1/RW 3, Desa Tamansari. Mereka adalah anggota komunitas motor yang Sabtu lalu menjadi korban kecelakaan di Tongas.

ACHMAD ARIANTO, Dringu, Radar Bromo

Suasana berkabung masih terlihat di rumah dua korban yang merupakan anggota komunitas CB regional Dringu. Terlihat sanak saudara, guru, serta teman sejawat datang bertakziah di rumah korban yang kebetulan berdekatan.

Peristiwa yang merenggut nyawa kedua pemuda ini meninggalkan kesedihan teramat dalam bagi keluarganya. Sosok ramah dan mudah bergaul kini sudah tiada. Banyak keluarga dan teman sejawat tidak menyangka jika hari Sabtu (2/11) merupakan pertemuan terakhir dengannya.

Seperti yang diungkapkan Susesno, 62, ayah dari Fathulloh yang mengatakan, dirinya seperti bermimpi ketika mendapatkan kabar bahwa putra bungsunya telah tiada karena kecelakaan. Sosok yang disayangi kini sudah tiada, meninggalkan cerita yang akan diingatnya sepanjang masa.

“Fathulloh itu anak yang ramah, mudah bergaul, sehingga banyak teman. Dari dulu sejak masuk SMK sudah punya hobi modifikasi motor dan tertarik di bidang otomotif,” ujarnya.

Suseno tak pernah melarang dan mengekang hobi yang dimiliki anaknya. Karena hal itu merupakan salah satu sarana untuk belajar dan menjadi salah satu sarana untuk menghilangkan rasa jenuh sepulang sekolah.

Diceritakan bahwa Fathulloh merupakan anak bungsu dari empat bersaudara. Saat ini statusnya masih bersekolah di salah satu SMK di Kabupaten Probolinggo. Setiap akhir pekan sudah menjadi hobinya memodifikasi motor dan berkumpul bersama komunitasnya.

“Selama hobi itu berdampak positif, tentunya terus saya dukung, asal bisa membagi waktu antara sekolah dan hobi,” pungkasnya.

Lelaki yang saat itu mengenakan kopiah putih tersebut juga menceritakan saat terakhir sebelum kecelakaan terjadi. Ketika itu dirinya sedang ada di rumah. Kemudian Fathulloh datang menghampiri untuk berpamitan akan ke Pasuruan.

“Sebelum berangkat memang sudah berpamitan, katanya ada acara komunitas. Jadi, saya pikir acara itu seperti biasa yang dilakukan setiap akhir pekan, saya mengizinkan. Sekitar pukul 23.00 saya mendapat kabar dia meninggal karena kecelakaan. Seketika itu hati saya seperti tersambar petir,” tandasnya.

Hal serupa dirasakan Sanemo, 57, ayah dari Mohamat Apdolla. Peristiwa meninggalnya putra kesayangannya itu membuat dirinya terpukul. “Apdolla putra saya itu tidak neko-neko. Memang hobinya di bidang otomotif ada sejak lulus dari SMK,” ujarnya.

Seminggu sebelum putranya meninggal dunia, tidak ada firasat yang dirasakannya. Hanya tiga hari sebelum peristiwa itu terjadi, Apdolla memberi rokok kepada ayahnya karena rokok habis. “Ternyata pemberian terakhir yang diberikannya,” jelasnya sambil mata berkaca-kaca.

Sanemo mengatakan jika putranya selepas lulus dari SMK, memiliki kesibukan membantu rekannya yang ada di bengkel dan bekerja proyekan. Pekerjaan ini dia lakukan untuk membantu orang tua dan sisanya digunakan untuk menabung.

Kesedihan juga diungkapkan Sultan Fatah, 26, wakil ketua CBDC. Dia bercerita jika dua anggotanya merupakan sosok orang suka belajar terutama berkaitan dengan modifikasi motor. Motor yang mereka punya merupakan hasil modifikasinya sendiri yang dipelajari secara otodidak.

Sultan –sapaan akrabnya- mengatakan saat hendak berangkat menuju acara kopdar CB Sabtu (2/11) di Pasuruan. Keduanya berpamitan kepadanya untuk datang ke acara itu. Namun, keduanya berencana berangkat pada malam hari.

Mereka berangkat dengan berboncengan mengendarai motor milik Apdolla dan Apdolla mengemudikan motor. “Seperti biasanya saja ketika mau berangkat kopdar, tidak ada firasat apapun. Namun, ketika hendak berangkat mereka berkata, mau berangkat belum tahu nanti mau balik atau tidak,” katanya.

Kata-kata itu membuat Sultan terngiang-ngiang hingga saat ini. Sesekali menyeka air matanya ketika mengulang ucapan terakhir yang mereka katakan. (ar/fun) Editor : Jawanto Arifin
#honda cb #cb probolinggo #jalur pantura #kecelakaan maut #pemotor tewas