ARIF MASHUDI, Sukapura, Radar Bromo
Cuaca di kawasan wisata Gunung Bromo, Desa Ngadisari, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo, siang itu terlihat cerah. Matahari bersinar terang. Namun, itu tidak mengubah suhu di Bromo yang sejuk. Badan ini tetap merasakan dinginnya udara pegunungan.
Begitulah selalu suasana di Gunung Bromo. Jika pun ada yang berbeda, yaitu terjadinya fenomena alam badai pasir di lautan pasir Gunung Bromo.
Sudah lima hari terakhir, badai pasir itu terjadi. Biasanya, badai pasir terjadi tiga kali. Pagi sekitar pukul 08.00, siang, dan sore. Tergantung angin yang berembus saat itu.
Jika terjadi angin kencang, badai pasir akan terjadi. Sebab, saat musim kemarau seperti sekarang, lautan pasir kering. Debu dan pasirnya pun beterbangan terbawa angin kencang.
Hampir semua pengunjung Bromo pun mengenakan masker. Tetapi, hanya sebagian pengunjung yang mengenakan pelindung mata. Karena itu, saat badai pasir terjadi, mereka berlindung di mobil. Atau masuk ke warung-warung.
Adi Prasetyo, 30, warga Karanganyar, Jawa Tengah, adalah salah satu pengunjung Gunung Bromo saat badai pasir terjadi. Adi sebenarnya sudah mendengar kabar bahwa badai pasir sedang terjadi di Gunung Bromo.
Namun, dia juga mendapat informasi bahwa Gunung Bromo tetap aman dikunjungi. Karena itu, dia dan teman-temannya tetap berkunjung ke Bromo saat liburan.
Sebagai langka antisipasi, mereka pun membawa perlengkapan keamanan.”Saya bawa masker dan kaca mata. Jadi, antisipasi jika ada badai pasir,” katanya pada Radar Bromo, Rabu (31/7).
Namun, bagi Adi, berkunjung ke Gunung Bromo saat badai pasir terjadi, memiliki cerita tersendiri. Adi mengaku, sebelumnya tidak pernah datang ke lautan pasir. Karena itu, berada di lautan pasir Gunung Bromo, baginya adalah pengalaman pertama. Ditambah lagi, badai pasir sedang terjadi seperti sekarang.
Pendek kata, lautan pasir dan badai pasir bagi Adi hanyalah fenomena alam yang hanya bisa dilihat di film. “Ada gurun pasir, kemudian ada angin kencang. Itu hanya bisa saya lihat di film. Dan sekarang, saya bisa merasakan langsung di lautan pasir Gunung Bromo. Jadi, ini bagi saya pengalaman baru,” tuturnya.
Adi bahkan bersikap cukup ekstrem saat badai pasir terjadi. Saat teman-temannya berlindung di mobil, dia malah tetap di lautan pasir.
”Ada teman yang tidak berani, jadi berlindung di dalam mobil. Tapi, saya malah di luar karena ingin merasakan diselimuti pasir yang terbawa angin kencang,” ungkapnya.
Chairul Umam, salah satu pengemudi jasa transportasi di Gunung Bromo mengatakan, fenomena badai pasir tidak membuat pengunjung Bromo sepi. Tiap harinya, pengunjung tetap banyak yang datang.
”Tetap ramai pengunjung. Karena badai pasir itu hanya bisa dirasakan saat di lautan pasirnya. Kalau di penanjakan atau tempat lainnya, tidak terdampak,” terangnya.
Badai pasir terjadi, dikatakan Umam, biasanya sekitar pukul 08.00. Saat itu kebanyakan pengunjung sudah menikmati momen matahari terbit dari penanjakan atau tempat lain. Kemudian pengunjung ke lautan pasir melihat secara dekat kawah Bromo.
”Biasanya, kalau tidak tahan memilih di mobil saja. Tapi, ada yang tetap jalan meski angin kencang. Kadang mereka berlindung di tenda warung,” ungkapnya.
Namun, ada juga pengunjung yang tetap di luar. Bertahan demi menikmati embusan badai pasir Gunung Bromo. (hn) Editor : Jawanto Arifin