Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Waspada Badai Pasir di Bromo, Tokoh Tengger Sebut Leluhur Bersih-Bersih

Jawanto Arifin • Rabu, 31 Juli 2019 | 14:47 WIB
Photo
Photo
SUKAPURA, Radar Bromo - Fenomena alam menarik kembali terjadi di Gunung Bromo, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo. Setelah fenomena embun es (frost), kini terjadi badai pasir di Gunung Bromo. Badai pasir ini terjadi sejak empat hari terakhir.

Badai pasir ini terjadi akibat musim kemarau disertai angin kencang yang terjadi di kawasan Bromo. Sehingga, debu lautan pasir pun beterbangan.

Wahyu Kusuma, kepala Pos Pantau Gunung Api (PGA) Bromo saat dikonfirmasi membenarkan badai pasir yang terjadi di lautan pasir Gunung Bromo. Kondisi itu terjadi sejak empat hari terakhir. Dan Selasa (30/7), badai pasir masih terjadi.

Namun, ditegaskan Wahyu, badai pasir yang terjadi di Gunung Bormo bukan angin badai yang besar. Tetapi, angin kencang yang mengakibatkan debu pasir bertebaran di kawasan lautan pasir Bromo.

”Kondisi ini tidak ada kaitannya dengan kondisi kegempaan Gunung Bromo. Sejauh ini, kondisi Gunung Bromo cukup stabil. Tapi status waspada level II,” katanya pada Radar Bromo.

Wahyu menjelaskan, badai pasir terjadi akibat musim kemarau yang disertai angin kencang. Kondisi lautan pasir yang kering, mudah terbawa oleh angin kencang. Sehingga, terjadi badai pasir. Berbeda saat kondisi lautan pasir basah, tidak akan terjadi badai pasir.

”Kami tidak dapat pastikan sampai kapan badai pasir terjadi atau kapan puncak badai pasir terjadi. Karena semua itu akibat cuaca. Saat kemarau, terjadi angin kencang, maka debu lautan pasir Gunung Bromo akan beterbangan seperti halnya badai pasir,” terangnya.

Supoyo, tokoh warga Tengger di Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo mengatakan, badai pasar biasa terjadi, wajar. Biasanya, menurutnya, badai pasir memang terjadi setelah hari raya Yadnya Kasada.

Menurut keyakinan suku Tengger, badai pasir terjadi untuk pembersihan lautan pasir. Mengingat, lautan pasir Gunung Bromo sangat luas.

”Kalau menurut keyakinan warga Tengger, badai pasir itu hal biasa. Keyakinan kami, para leluhur sedang melakukan bersih-bersih di Gunung Bromo,” ungkapnya. (mas/hn) Editor : Jawanto Arifin
#tengger #lautan pasirbadai pasir bromo #lautan pasir #gunung bromo #badai pasir bromo