Badai pasir ini terjadi akibat musim kemarau disertai angin kencang yang terjadi di kawasan Bromo. Sehingga, debu lautan pasir pun beterbangan.
Wahyu Kusuma, kepala Pos Pantau Gunung Api (PGA) Bromo saat dikonfirmasi membenarkan badai pasir yang terjadi di lautan pasir Gunung Bromo. Kondisi itu terjadi sejak empat hari terakhir. Dan Selasa (30/7), badai pasir masih terjadi.
Namun, ditegaskan Wahyu, badai pasir yang terjadi di Gunung Bormo bukan angin badai yang besar. Tetapi, angin kencang yang mengakibatkan debu pasir bertebaran di kawasan lautan pasir Bromo.
”Kondisi ini tidak ada kaitannya dengan kondisi kegempaan Gunung Bromo. Sejauh ini, kondisi Gunung Bromo cukup stabil. Tapi status waspada level II,” katanya pada Radar Bromo.
Wahyu menjelaskan, badai pasir terjadi akibat musim kemarau yang disertai angin kencang. Kondisi lautan pasir yang kering, mudah terbawa oleh angin kencang. Sehingga, terjadi badai pasir. Berbeda saat kondisi lautan pasir basah, tidak akan terjadi badai pasir.
”Kami tidak dapat pastikan sampai kapan badai pasir terjadi atau kapan puncak badai pasir terjadi. Karena semua itu akibat cuaca. Saat kemarau, terjadi angin kencang, maka debu lautan pasir Gunung Bromo akan beterbangan seperti halnya badai pasir,” terangnya.
Supoyo, tokoh warga Tengger di Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo mengatakan, badai pasar biasa terjadi, wajar. Biasanya, menurutnya, badai pasir memang terjadi setelah hari raya Yadnya Kasada.
Menurut keyakinan suku Tengger, badai pasir terjadi untuk pembersihan lautan pasir. Mengingat, lautan pasir Gunung Bromo sangat luas.
”Kalau menurut keyakinan warga Tengger, badai pasir itu hal biasa. Keyakinan kami, para leluhur sedang melakukan bersih-bersih di Gunung Bromo,” ungkapnya. (mas/hn) Editor : Jawanto Arifin