WINDY ESTININGRUM, Leces, Radar Bromo
Setelah seminggu bekerja di Kota Probolinggo, tiap akhir pekan, saya selalu pulang ke Lumajang. Menemui anak semata wayang dan suami di rumah. Ya, keluarga kami memang menjalani hubungan jarak jauh atau long distance relationship (LDR) karena tuntutan profesi.
Demikian juga Sabtu (27/7) itu. Setelah menyelesaikan pekerjaan di kantor sekitar pukul 00.30, saya langsung berangkat ke Terminal Bayuangga, Kota Probolinggo. Hawa dingin yang menusuk, tidak menjadi halangan bagi saya dan puluhan calon penumpang bus yang lain di terminal. Bayangan segera bertemu dengan keluarga di rumah, selalu memberikan semangat tersendiri.
Setelah menunggu setengah jam, pukul 01.00, bus yang saya tunggu masuk ke terminal. Bus Patas Ladju Nopol N 7224 UA jurusan Jember menjadi pilihan saya pulang ke Jatiroto, dini hari itu.
Tanpa banyak menunggu, bus langsung melaju dengan membawa sekitar 20 penumpang. Bus melewati Jalan Tol Paspro di exit tol Probolinggo Barat dan keluar di exit tol Probolinggo Timur.
Perjalanan lancar di jalan tol. Dalam kondisi normal, perjalanan Probolinggo – Lumajang memang hanya butuh waktu 2 jam. Namun, saya tidak menyangka, hari itu butuh waktu lebih dari 2 jam untuk sampai Lumajang. Yaitu, 8 jam.
Sebenarnya, macet di jalan jurusan Probolinggo-Lumajang adalah hal biasa. Karena kondisi jalan yang padat merayap, biasanya perjalanan Probolinggo-Lumajang jadi satu jam lebih lama. Yaitu, 3 jam.
Namun, hari itu lamanya bonus perjalanan Probolinggo-Lumajang mencapai rekor. Setiap pulang ke Lumajang di akhir pekan, selama 6 tahun, sejak 2012 hingga 2019, baru kali ini saya terjebak macet 8 jam.
Berangkat dari Terminal Bayuangga Sabtu (27/7) pukul 01.00 sampai di Lumajang pukul 09.00. Langsung ilfil (ilang feeling) rasanya. Bahkan, seperti liburan di bus saja.
Ya, dini hari itu, macet langsung menyergap bus yang saya tumpangi begitu keluar dari jalan tol di exit tol Probolinggo Timur.
Sopir bus pun mencoba menembus kemacetan dengan melaju di jalur kanan yang kosong. Tapi, usaha untuk menembus kemacetan sia-sia. Sampai di depan SPBU Malasan Kulon, Kecamatan Leces, Kabupaten Probolinggo, bus kembali masuk ke jalur kiri, mengikuti antrean macet. Saat itu, waktu menunjukkan pukul 02.00.
Dari Malasan Kulon, laju bus terus melambat. Bahkan, sempat tidak bergerak sama sekali, selama sekitar 1 jam. Alhasil, pukul 04.58, bus baru melewati batas Kabupaten Probolinggo dan Lumajang.
Namun, tidak hanya kendaraan dari arah Probolinggo yang macet panjang, bahkan sempat tidak jalan sama sekali. Dari arah Lumajang, kondisi serupa terjadi. Kendaraan mengular di jalur itu.
Di antaranya, beberapa bus pariwisata dari Bali. Saking lamanya laju kendaraan tak bergerak, beberapa penumpang bus sampai keluar dari kendaraan. Mereka duduk sambil ngobrol dan menikmati camilan di sela-sela kemacetan.
Sementara itu, sopir truk ukuran besar banyak yang menikmati macet dengan tidur. Maklum, arus lalu lintas memang sempat berhenti total selama 1 jam, bahkan lebih.
Di daerah antara perbatasan Probolinggo-Lumajang dengan Pasar Gedang Ranuyoso, lagi-lagi bus yang kami tumpangi tak bergerak hingga 1 jam.
Saat itu posisi bus ada di sekitar perkebunan pohon sengon. Ini dimanfaatkan oleh banyak penumpang laki-laki turun untuk kencing di belakang pohon.
Namun, saya dan empat penumpang perempuan yang lain, tentu tidak bisa melakukan itu. Saya memang tidak kebelet pipis. Tapi, entah empat penumpang perempuan yang lain. Apakah sama dengan saya. Atau kebelet, tapi ditahan? Who knows?
Perjalanan dari Probolinggo mulai lancar setelah melewati Pasar Gedang Ranuyoso. Namun, tidak demikian dengan lajur dari arah Lumajang. Kendaraan tidak bergerak sama sekali sampai pertigaan Randuagung, Klakah.
Sampai di daerah Stasiun Klakah, sekitar pukul 07.25, dua penumpang dari bus jurusan Surabaya, memilih pindah ke bus yang saya tumpangi. Salah satunya, Muhammad David, 37, warga Jember yang balik kucing karena macet.
Warga Jember itu sebenarnya hendak ke Surabaya. Namun, karena arus lalu lintas macet total, dia pun kembali ke Jember. “Tadi dari Terminal Tawangalun Jember pukul 04.00. Sampai Klakah sekitar pukul 05.00. Terus bus gak bergerak sampai sekarang (pukul 07.25, Red). Akhirnya saya memilih pulang,” ujar pria yang ke Surabaya untuk mengurus surat-surat kendaraan ke Polda Jatim itu.
David –panggilannya- mengaku, akan ke Polda Jatim di Surabaya. Dia memprediksi, urusan itu akan selesai dalam waktu sehari saja. Karena itulah, David berangkat pagi.
“Hari ini kan Sabtu. Polda bukanya setengah hari. Jadi saya putuskan pulang saja. Percuma, nanti sampai Polda juga sudah tutup,” lanjutnya.
Yang banyak disayangkan penumpang, dari awal titik kemacetan di Leces, Kabupaten Probolinggo hingga akhir titik macet di Klakah, Kabupaten Lumajang, tidak ada seorang polisi pun yang tampak mengurai kemacetan.
“Macetnya parah seperti ini, kok tidak ada polisi sama sekali,” keluh Sukono, 65, warga Kelurahan Mangunharjo, Kecamatan Mayangan, Kota Probolinggo.
Seharusnya, menurut Sukono, ada petugas kepolisian dalam kondisi macet parah seperti itu. “Terkadang kita butuh melihat mereka (polisi) ada di tengah-tengah kita, walau tidak bisa mengurai kemacetan ini. Saat melihat mereka, kita tahu bahwa mereka berusaha untuk mengurai kemacetan ini. Jadi, kita merasa diayomi,” jelas pria yang akan ke Lumajang untuk menengok ibunya yang sedang sakit itu.
Tidak hanya itu. Bahkan, banyak penumpang tidak tahu, sebenarnya apa penyebab macet. Selama perjalanan dari Probolinggo ke Lumajang, saya dan penumpang yang lain selalu tengok kanan-kiri. Berusaha mencari tahu, apa sebenarnya yang menyebabkan macet. Misalnya kecelakaan. Tapi, selama perjalanan 8 jam itu, tidak ada penyebab macet yang kami lihat. Walaupun pada akhirnya dari teman-teman saya tahu telah terjadi kecelakaan.
Bahkan, pada akhirnya saya tahu juga, macet 8 jam yang saya rasakan, tidak ada apa-apanya dibanding pengendara lain di hari itu yang terjebak macet 18 jam di jalur yang sama. Jika saya saja yang terjebak macet 8 jam merasa jenuh, tidak bisa saya bayangkan bagaimana mereka yang terjebak macet 18 jam. (hn) Editor : Jawanto Arifin