---------------------
Di Desa/Kecamatan Pasrepan, Kabupaten Pasuruan, cukup banyak warga yang tidak asing dengan dunia kesenian, termasuk seni musik. Dari desa ini pula berdiri grup musik gambus. Tak hanya membawakan lagu-lagu Arab dan Islami, namun juga turun berdakwah.
Grup musik yang terus eksis itu adalah Elquro. Grup ini didirikan oleh sekitar 15 orang warga Desa/Kecamatan Pasrepan, pada 2000. “Banyak teman di desa saya ini lulusan pondok pesantren. Sehingga, tidak asing dengan kegiatan salawatan dan albanjari. Karena itu, pada 2000-an, sekitar 15 orang saat itu tertarik mengembangkan musik Islami di Pasrepan,” ujar salah seorang pendiri Elquro, M. Aminulloh.
Pria yang lebih akrab dengan panggilan Pak Jey ini mengatakan, di desanya juga banyak yang hobi bermusik, utamanya albanjari. Awalnya, jenis musik yang dikembangkan grupnya berupa marawis. Namun, seiring waktu lebih mendalami musik gambus.
Jey mengatakan, Elquro sendiri dari kata quro yang artinya dusun atau desa. “Meski dari dusun, tapi Insyaallah penampilan kami tidak kampungan,” ujarnya, sambil bercanda.
Untuk gambus sendiri yang mencolok karena adanya alat musim petik gambus yang mirip mandolin. Dalam penampilan mereka, gambus ini yang paling dominan untuk nuansa musik. Jey sendiri, saat tampil selain sebagai vokalis juga memegang gitar gambus.
Saat ini anggota Elquro ada 10 orang. Selain ada yang memegang gambus juga ada pemain keyboard, biola, dumbuk (alat musim yang dipukul), seruling, dan vokalis. Sedangkan, untuk lagu-lagu yang dibawakan merupakan lagu populer Islami yang biasanya dimainkan dengan gambus.
“Utamanya yang lagu Islam populer misal Habibi Ya Nurul Aini, Magadir, lagu-lagu salawat, termasuk lagu yang lebih nge-beat seperti disko Arabic,” jelasnya.
Karena Elquro merupakan kelompok musik yang basic-nya dari hobi, para personel juga mempunyai pekerjaan utama lainnya. Kendati begitu, dalam sebulan setidaknya bisa ada permintaan untuk memainkan musik gambus hingga 20 kali. Mereka paling sering manggung bila musim pernikahan.
Jey mengatakan, musik gambus saat ini lebih populer untuk undangan dalam kegiatan masyarakat. Karenanya, Elquro justru sering menolak permintaan. Selain karena waktu, dalam sebulan mereka memang hanya bisa tampil hingga 20 kali. Baik dalam kegiatan pengajian umum sampai acara pernikahan.
Tak hanya sebagai hobi, bagi personel Elquro, bermain musik gambus merupakan sebagai media dakwah serta sebagai majelis silaturahmi. “Kesenangannya, ya kalau kami main bisa memberikan kesenangan pada yang mendengar. Yang tahu lagunya juga bisa ikut bernyanyi. Keuntungan lainnya, juga menjalin silaturahmi. Karena kami juga sering ikut bermain di kelompok musik lainnya,” ujar Jey.
Sekali manggung, Elquro biasanya tampil antara 2-3 jam. Kepopuleran musik gambus, kata Jey, membuat permintaan tampil meningkat dalam 5 tahun terakhir. Selama ini, Elquro tidak hanya sering tampil di Pasuruan. Tapi, juga diundang hingga ke Ngawi, Surabaya, Trenggalek, Ponorogo, sampai Jawa Tengah.
Menurutnya, saat ini musik Islami cukup membumi. Tidak hanya di Pasuruan, tapi di Indonesia. Musik-musik Islami, termasuk gambus bisa menjadi media dakwah agar lebih mengenalkan budaya Islam ke masyarakat.
“Juga bisa mempererat persaudaraan. Yang awalnya tidak kenal, menjadi lebih kenal lewat musik. Karena itu, kami juga terbuka untuk kolaborasi, bahkan anggota juga sudah biasa main bersama grup musik Islami lainnya,” ujarnya. (eka/rud) Editor : Jawanto Arifin