Politisi yang akrab disapa Haji Santo itu meninggal dunia di RSUD dr Mohamad Saleh sekitar pukul 12.00. Jenazahnya lantas dimakamkan sekitar 4 jam kemudian.
Informasi yang diperoleh Jawa Pos Radar Bromo, Santo dirawat di rumah, sebelum kemudian pihak keluarga membawanya untuk berobat di rumah sakit. “Informasinya sakit saat di Jati, kemudian dibawa ke RSUD dr Mohamad Saleh dan meninggal di sana pukul 12.00,” ujar Fuad Buadi, sekretaris DPC PPP Kota Probolinggo.
Fuad sendiri mengaku tidak tahu pasti penyebab sakit ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kota Probolinggo itu. “Dia sosok yang konsisten memperjuangkan nelayan Kota Probolinggo,” katanya terkait kiprah Santo.
Saat disinggung mengenai posisi di DPRD yang kosong, ia belum memastikan apakah diisi politisi lain atau tidak.
“Sampai saat ini belum ada pembicaraan soal itu di internal parpol. Namun, jika melihat dari peraturan yang ada, dengan masa jabatan kurang dari 6 bulan, jelas tidak bisa dilakukan PAW (Pergantian Antarwaktu, Red),” ujarnya.
Sehingga, kursi DPRD yang selama ini ditempati Santo tetap dibiarkan kosong sampai pelantikan anggota DPRD yang baru.
Sementara itu, Ketua DPRD Kota Probolinggo Agus Rudianto Ghaffur menjelaskan, pihaknya sempat menggelar rapat paripurna internal untuk membahas pergantian Alat Kelengkapan Dewan (AKD) untuk Badan Anggaran (Banggar).
Penggantian ini dilakukan untuk mengisi anggota banggar yang kosong sejak Santo sakit. “Yang mengajukan pergantian AKD ini dari Fraksi PPP. Haji Santo akan digantikan oleh David Rosidy (Ketua DPC PPP, Red),” jelasnya.
Soal kemungkinan PAW, Rudi juga berpandangan yang sama dengan Fuad Buadi. Tidak akan ada PAW karena masa jabatan DPRD periode 2014-2019 hanya tinggal beberapa bulan. “Tidak untuk PAW, waktu jabatannya kan tinggal beberapa bulan. Jadi, Haji Santo tetap anggota DPRD,” ungkapnya. (put/rf) Editor : Jawanto Arifin