Sebab, komoditas daging dan telur kerap mengalami kenaikan harga. Sehingga, akhirnya mengerek inflasi Kota Probolinggo. “Perlu ada perubahan pola konsumsi di masyarakat. Terutama perubahan pada konsumsi komoditas yang kerap mengalami kenaikan harga seperti daging dan telur,” terang Ahmad Sudiyanto, Asisten Perekonomian Pemkot Probolinggo, Selasa (15/1).
Menurutnya, alternatif sumber protein hewani selain daging dan telur adalah ikan. Mengingat produksi perikanan Kota Probolinggo juga melimpah.
“Dibandingkan harga daging, harga ikan relatif lebih stabil dan terkendali. Selain itu juga perlu digalakkan konsumsi makan ikan,” tuturnya.
Apalagi, saat ini dikatakannya, konsumsi ikan Kota probolinggo mencapai 36,25 kg/per orang/tahun. Masih di bawah angka nasional yang mencapai 45 kg/orang/tahun.
Sementara itu Adenan, kepala BPS Kota Probolinggo menyebutk, Kota Probolinggo mengalami inflasi tertinggi pada Desember 2018, dibanding delapan kota yang menghitung Indeks Harga Konsumen di Jawa Timur.
“Untuk bulan Desember 2018, inflasi tercatat mencapai 0,72 persen. Ini yang tertinggi di Jatim. Namun untuk inflasi tahun kalender yaitu dari Januari sampai Desember, tercatat hanya 2,18 persen,” ujar Adenan.
Adenan mengungkapkan, ada beberapa komoditas yang menyumbang inflasi cukup tinggi. Seperti tarif angkutan umum yang naik, karena Natal dan Tahun Baru. Juga sejumlah komoditas pertanian yang ikut naik.
“Harga telur ayam ras, daging ayam ras mengalami kenaikan. Kemungkinan karena liburan jadi permintaan juga meningkat,” ujarnya. (put/hn) Editor : Jawanto Arifin