Salah satunya Afriliyanto, 25. Dia mengaku sudah mendengar larangan melaut, tapi setelah melihat kondisi perairan di pelabuhan cukup tenang, Afril -panggilannya- pun memilih berenang.
"Sepertinya larangan itu cuma buat nelayan. Kalau di tengah laut mungkin saja ombaknya tinggi. Kalau di tepi ombaknya tenang, " ujarnya.
Selain itu, tempat berenang itu lokasinya menjorok ke darat. Tidak langsung berhadapan dengan laut lepas.
"Selain ombak, anginnya juga tenang. Kalau angin dan ombaknya kencang, jelas saya ndak berani renang," ujarnya.
Selain melihat kondisi angin dan ombak, Afril mengaku enggan berenang di laut saat mendung dan ada petir. "Sekarang memang mendung, tapi tidak ada petir. Jadi, masih aman berenang," ujar warga Kelurahan Jati, Kecamatan Mayangan, Kota Probolinggo.
Hal serupa dilakukan Marwah, 30, warga Desa Dringu, Kabupaten Probolinggo. Meskipun ada larangan melaut karena ombak tinggi, ibu satu putri ini tetap berenang bersama putrinya.
Baginya, berenang di laut telah menjadi kegiatan rutin seminggu sekali, “Sudah dikabari sih kalau tidak boleh melaut, tapi saya lihat masih aman kok ombaknya kalau di pinggir. Kalau pas di tengah mungkin besar ya ombaknya,” ujarnya.
Marwah mengaku tidak khawatir terseret ombak karena tidak pernah jauh dari tepi laut. “Biasanya hanya 2 meter saja saya renangnya. Bawa anak juga, jadi nggak berani jauh-jauh. Kalau ombaknya semakin kencang bisa cepat naik,” ujarnya.
Namun, diakui Marwah, dibandingkan biasanya, sore kemarin orang yang datang berenang di pelabuhan jauh lebih sedikit. “Biasanya banyak di pinggir-pinggir, tapi sekarang sedikit,” ujarnya. (put/hn) Editor : Muhammad Fahmi