Untuk bulan Desember 2018, inflasi tercatat mencapai 0,72 persen. Namun untuk inflasi tahun kalender yaitu dari Januari sampai Desember tercatat hanya 2,18 persen. Kota Probolinggo terendah ketiga untuk inflasi tahun kalender setelah Kediri dan Banyuwangi.
“Bulan Desember memang paling tinggi inflasi kota Probolinggo 0,72 persen. Kemudian disusul Kota Malang dan Kota Surabaya dengan besaran 0,65 persen,” ujar Moch Machsus, Kasie Statistik dan Distribusi BPS Kota Probolinggo.
Dari 7 kelompok pengeluaran yang dihitung BPS Kota Probolinggo, 5 kelompok mengalami inflasi dan 2 kelompok mengalami deflasi. “Yang mengalami inflasi antara lain kelompok bahan makanan, kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar, kelompok kesehatan, kelompok pendidikan, rekreasi dan olehraga serta kelompok transportasi, komunikasi dan jasa keuangan,” ujarnya.
Machsus mengungkapkan dari kelompok transportasi disumbang kenaikan tarif bus selama Nataru. “Bus Patas Probolinggo-Surabaya yang biasanya Rp 30 ribu menjadi Rp 40 ribu. Begitu juga untuk tarif bus jarak jauh seperti Probolinggo-Jakarta, naik dari Rp 320 ribu menjadi Rp 360 ribu,” jelasnya.
Kenaikan tarif bus ini dilakukan sejak sepekan sebelum tahun baru sampai 2 Januari 2019. Selain dari tarif angkutan, kenaikan harga juga terjadi pada komponen harga bahan pangan. “Seperti telur ayam ras, beras, daging ayam ras naik. Daging ayam ras sempat menyentuh Rp 40 ribu per kilogram. Sekarang mungkin sekitar Rp 38 ribu,” ujarnya.
Sedangkan untuk harga telur saat ini kisaran Rp 26 ribu sampai Rp 28 ribu per kilogram. Padahal normalnya sekitar Rp 18-20 ribu per kilogram. “Kenaikan ini karena harga pokok produksi dinaikkan oleh Pemerintah. Selain itu untuk daging ayam dan telur naik karena harga pakan juga mengalami kenaikan,” ujarnya. (put/fun) Editor : Jawanto Arifin