Turunnya harga kentang ini terjadi sejak memasuki Desember 2018. Syukur, sejauh ini di kawasan Kecamatan Sumber, sebagian besar masih proses musim tanam. Sehingga, tidak banyak kentang milik petani yang dijual.
Salah seorang petani kentang asal Desa Wonokerso, Kecamatan Sumber, Sudir Supriyadi mengatakan, turunnya harga kentang ini membuat banyak petani mengeluh. Sebab, menurunkan pendapatan mereka. “Seumpama kami seharusnya dapat Rp 100 juta, sekarang hanya mendapatkan Rp 70 juta sampai Rp 80 juta,” ujarnya.
Selain itu, menurutnya, kini di daerahnya minim kentang. Sebab, masih banyak kentang milik petani yang belum memasuki masa panen. Karenanya, pihaknya mengaku heran dengan turunnya harga kentang di akhir tahun ini. “Mungkin karena diserbu kentang dari daerah lain. Soalnya kan kalau tidak banyak gini bisanya mahal. Tapi, ini malah murah,” ujarnya.
Hal senada disampaikan Ketua Kelompok Tani Desa Setempat Suliono. Menurutnya, saat ini ada daerah yang masuk musim panen kentang. Sehingga, membuat harga kentang di tingkat petani turun. “Di daerah Jawa Tengah ada yang panen. Akibatnya, pasokan barangnya banyak dan menguasai pasaran di Jawa Timur. Karenanya, harga kentang di daerah kami turun,” tuturnya.
Sementara itu, Kabid Tanaman Holtikultura Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Probolinggo Handoko mengatakan, harga kentang di pasaran cendrung fluktuatif dan mengikuti hukum pasar. Jika stok barang banyak, harganya cenderung murah.
“Hukum pasar berlaku. Jika barang di pasar banyak, harga akan cenderung turun. Begitu sebaliknya. Karenanya, petani harus bersabar. Jika kondisi seperti itu, bisa disimpan dulu,” ujarnya. (sid/fun) Editor : Jawanto Arifin