RIZKY PUTRA DINASTI, Wonoasih
Jam istirahat siang itu dimanfaatkan sebagian untuk memenuhi kantin sekolah. Namun, ada juga yang memilih bermain. Pandangan media ini kemudian tertuju pada sekitar 15 siswa-siswi, yang tengah bermain peran. Ada juga yang sedang melakukan latihan vokal.
Mereka inilah yang tempo hari menyita perhatian juri dalam FFPJ ke-9. Dalam festival itu, anak-anak ini berhasil masuk 4 nominasi kategori film pendek nasional tingkat SD. Prestasi yang membanggakan bagi mereka yang selama ini tak pernah kenal dengan yang namanya film.
Adapun ke-15 anak ini di antaranya, Firda Naila (editor); Khoirun Nisa (narasi), Wulan Agustin (sutradara); Siti Aulia (editor); dan Aditya Pratama (peran pembantu). Kelimanya masih duduk di kelas V.
Kemudian, Agung Cahyono (sutradara), Rensi (kameramen), Nova Linda Zein (penulis naskah film), Dewi Nurul Qomariyah (penata artistik/properti), Richa Nur Indah Ayu S (clapper), Amirul Mukminin (kameramen), dan Muhammad Toyi (aktor). Sinta dan Nurfadila, sebagai peran pembantu cukup signifikan.
Menurut Silfy, cerita pendek yang berjudul “Tomo” itu diangkat dari cerita sehari-hari. Menurutnya, nama Tomo sendiri di ambil atas kesepakatan berasama. Mengingat, film pendek yang diambil akan mengedepankan ciri kedaerahan. Sehingga pada film yang berdurasi sekitar lima menit itu meenggunakan bahasa Madura.
“Pakai nama Tomo karena mudah diingat dan rasanya nama itu kental dengan adat Madura,” bebernya. Film yang menggunakan latar sekolah, teras rumah, serta persawahan itu diaktori oleh M Toyyib. Mengingta karakter orang pinggiran atau orang desa dengan sekolah yang ada di desa, Toyyib lebih mengena.
Cerita itu mengisahkan seseorang bernama Tomo, yang dalam adegan tersebut digambarkan sebagai orang yang salah. Ketika di sekolah, Tomo selalu tidur dan tak mendengarkan guru yang sedang menerangkan pelajaran. Bahkan Tomo tidak mau masuk sekolah lantaran pada saat itu ujian. Oleh karenanya ibunya meminta Tomo untuk mengarit saja, jika tidak mau sekolah.
“Rata rata orang di desa menyuruh anaknya untuk membatu bekerja, ketimbang untuk sekolah. Hal ini yang harus dibenahi. Makanya kita mencoba menyajikan film yang sesuai dengan keadaan yang ada pada saat ini,” terangnya.
M Toyyib yang memerankan Tomo mengungkapkan bahwa latikan yang dijalaninya untuk membuat film itu sekitar tiga bulan. Mulanya mereka tak menyangka bisa membuat film. Lebih lagi mulai dari alat untuk syarat pembuatan film, minimal untuk merekam tidak dimiliki.
Namun ia dibantu oleh pembimbingnya yang merupakan alumni dari SDN tersebtu, yakni Doni Ramadani dan Anton Dwi Prasetia. “Alat kita tak punya, cara ngedit, berakting kita tak ada. namun kita dibantu oleh pembimbing yang ternyata alumni sini juga. Termasuk alatnya dipinjami,” terang Toyyib dengan polosnya.
Tentunya pengalaman baru didapatkan. Mulai dari berakting, menjadi sutaradara, penulis narasi, kameramen, dan sebagainya. Termasuk hafalan naskah. Sehingga ratusan adegan harus diulangani. “Sulitnya hafal naskah. Jadi bolak balik di-cut,” bebernya.
Kepala SDN Kedunggaleng Budi mengapresiasi bakat serta upaya yang diraih siswanya. Bahkan hari itu juga, Budi meresmikan ektra perfilman di sekolahnya. Meski baru berjalan tiga bulan, namun prestasi dianggapnya cukup membangakan.
“Saya bangga dengan anak anak. Paling tidak mereka mampu mengeluarkan bakatnya di dunia perfilman. Lebih lagi yang menjadi guru ektranya adalah mantan siswa sini. Sehingga semangatnya untuk membagun generasi yang lebih baik tersalurkan,” terangnya.
Hal senada juga diungkapkan oleh Pengawas di Kecamatan Wonoasih Agus Litanta yang pada saat itu berada di sekolah tersebut. menurutnya bakat yang ada itu harus dikembangkan dan tidak boleh berhenti sampai disana saja. Tidak menutup kemungkinan akan lahir talent talent baru dari Kota Probolinggo.
“Saya sedikit kaget sekolah pinggiran bisa berprestasi seperti itu. Namun yang perlu dipertegas, bukan masalah poin pinggiran atau tidak. Tetapi siapa yang bsia membimbing dengan baik, maka akan mampu melahirkan generasi emas. Mengingat anak anak ibarat kertas putih. Siapa yang bisa mengarahkan dan menuliskan kebaikan yang ada, maka mereka akan mengikutinya,” jelasnya. (sid) Editor : Jawanto Arifin