Seperti yang dirasakan Husain Akbar, 25, warga asal Pasuruan yang sehari-harinya bekerja sebagai sales. Dengan harga Pertamax yang baru, cukup berat untuk biaya transportasi kerjanya.
“Berat dengan harga Pertamax sekarang. Naiknya Rp 900. Mungkin saya mau ganti bahan bakar saja,” ujarnya.
Warga yang indekos di Kelurahan/Kecamatan Kanigaran ini sehari-hari menggunakan Pertamax untuk bahan bakar motornya. “kalau beralih ke Premium tidak. Tapi, ganti ke Pertalite saja. Pertalite tidak naik,” ujarnya.
Husain menjelaskan, pekerjaannya menuntut mobilitas yang tinggi. Sehingga, BBM pun harus dipertimbangkan jenisnya untuk menekan biaya transportasi.
“Kalau saya kerja kantoran di Kota Probolinggo ndak masalah pakai Pertamax. Pastinya sudah jelas konsumsi BBM-nya. Tapi, sebagai sales yang kerja sampai ke wilayah kabupaten, entah habis berapa kalau tetap pakai Pertamax,” ujarnya.
Namun, tidak semua pengguna Pertamax memilih beralih BBM pascakenaikan harga. Ada yang bertahan karena dinilai lebih baik bagi kendaraan.
“Tetap saya pakai Pertamax. BBM-nya bagus buat motor. Mahal sedikit tidak masalah, asalkan Pertamax-nya ada,” ujar Lutfia, 30, warga Kelurahan Curahgrinting, Kecamatan Kanigaran, Kota Probolinggo.
Lutfia yang sehari-hari bekerja sebagai wiraswasta ini mengaku pekerjaannya tidak terlalu mobile. Sehingga, untuk kebutuhan BBM tidak banyak.
“Tapi, dengan naiknya Pertamax ini pasti uang untuk bahan bakar lebih mahal. Biasanya dalam sebulan saya habis sekitar Rp 200 ribu untuk Pertamax. Sekarang bisa lebih banyak lagi,” jelasnya. (put/hn) Editor : Muhammad Fahmi