Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Pengalaman Ketua FPTI Iwan Rosidi Selamat dari Gempa Palu

Jawanto Arifin • Sabtu, 6 Oktober 2018 | 19:00 WIB
Photo
Photo
Gempa berkekuatan 7,7 skala richter dan tsunami yang melanda Sulawesi Tengah (Sulteng) akan sulit dilupakan Ketua Harian Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) Kota Probolinggo Iwan Rosidi. Ia menjadi salah satu korban yang selamat dari maut. Upayanya pulang juga tak mudah.

RIZKY PUTRA DINASTI, Probolinggo

Seorang pria terlihat bersujud di depan rumahnya, di Perum Brantas Regency, Jalan Raya Brantas kelurahan/Kecamatan Kademangan, Kota Probolinggo, Kamis siang. Dari matanya, juga masih terlihat jelas linangan air mata yang membasahi pipinya.

Pria ini pun bangkit dan memeluk seorang bocah berusia sekitar 4 tahun. Dialah Iwan Rosidi, salah seorang korban gempa di Palu. Syukur, korban selamat dan bisa bertemu dengan keluarganya di Kota Probolinggo. Sambil menyeka air matanya, Iwan masih terus memeluk anaknya, Ahmad Faiza Ali, 4.

Saat gempa terjadi, Jumat (28/9) lalu, Iwan sedang berada di Palu. Pelatih panjat tebing itu berangkat sejak Rabu (26/9). Iwan berangkat dari Kota Probolinggo menuju Palu untuk menjadi juri dalam ajang Palu Nomoni Seri 3 di Anjungan Pantai Talise, Kota Palu. Namun, sebelum ajang ini digelar pada 29 September hingga 1 Oktober, gempa dan tsunami menyapu Palu.

Sambil terus mendekap anak semata wayangnya, Iwan berbagi pengalaman dengan Jawa Pos Radar Bromo. Pria 41 tahun ini mengaku bersyukur bisa berhasil selamat dari gempa dan tsunami. Ia juga mengaku bersyukur karena setelah 8 hari di Palu akhirnya bisa pulang dan berkumpul bersama keluarganya.

Iwan mengaku, saat hendak berangkat ke Kota Palu, sudah merasa tidak nyaman. Semula mobil yang ditumpanginya mendadak mogok. Bahkan, sesampai di Pantai Talise, Kota Palu, ada perasaan aneh dan tak biasa.

Menurutnya, di pantai itu seolah tidak ada embusan angin dan tidak ada kicauan burung. Sejumlah teman yang bersamanya selama di Palu, juga sulit merespons pembicaraannya. “Seakan-akan masyarakat setempat sudah tidak ada rohnya lagi,” ujarnya.

Beberapa saat sebelum gempa dan tsunami terjadi, Iwan mengaku sedang sibuk mempersiapkan event panjat tebing di Pantai Talise, Kota Palu. Bahkan, ketika gempa mengguncang, Iwan mengaku tidak tahu akan lari ke mana. Namun, ketika melihat gelombang laut mulai menghajar Pantai Talise, ia baru berusaha berlari ke tempat aman. “Sebelum tsunami datang, saya masih merasakan gempa,” ujarnya.

Saking kerasnya hantaman gempa pertama, menurutnya, dinding panjat tebing yang baru selesai dibangun langsung ambruk. Seketika itu tanah yang dipijaknya juga goyah dan ujug-ujug gelombang besar menghantam Pantai Talise.

Usai gempa dan tsunami, Iwan sempat menjadi relawan dan turut mengangkat sejumlah jenazah. Tangisan warga yang kehilangan anggota keluarganya juga pecah. Suasana semakin mencekam ketika malam dan aliran listrik padam.

Tiga hari pascagempa dan tsunami, Iwan mendatangi bandara. Ia berpikir bandara merupakan akses satu-satunya dirinya bisa mendapatkan makanan. Namun, setiba di bandara tak mendapat apa yang dicari. Koordinasi pihak bandara kurang maksimal dan menyalurkan bantuan bahan pangan lambat. “Padahal, logistik ada, tapi tidak dibagikan,” ujarnya.

Setelah antre semalaman, Iwan brau mendapatkan dua bungkus mi instan tanpa dimasak dan air. Mendapati kondisi yang tidak kondusif, Iwan mengaku ingin segera dievakuasi dan meninggalkan Palu. Karenanya, ia mencari celah untuk bisa dievakuasi menggunakan pesawat hercules.

Usaha Iwan untuk bisa segera pulang gagal. Sebab, saat itu yang didahulukan dalam proses evakuasi ibu-ibu, anak-anak, dan orang sakit. Ia berusaha masuk ke korem untuk bisa diberikan akses pulang, tapi lagi-lagi gagal.

Mendengar kabar anaknya tidak mau makan karena selalu mencarinya, membuat keinginannya untuk pulang semakin bulat. Beragam cara dilakukan. Salah satunya menghubungi ketua FPTI Kota Palu dan Pengurus KONI Kota Probolinggo. Tujuannya, mencari bantuan agar dirinya bisa difasilitas segera dievakuasi. Namun, semua itu sia-sia. “Hanya orang-orang khusus yang bisa dievakuasi menggunakan pesawat Hercules dan hanya pesawat itu akses untuk pulang,” ujarnya.

Tak menyerah, Iwan menghubungi salah-satu temannya di Jakarta yang memiliki kenalan seorang pilot Hercules. Hasilnya, ia diberi akses pulang bersama dengan salah satu jenazah korban gempa asal Batu yang merupakan atlet paralayang. “Itu salah satu pilihannya, bersama jenazah,” ujarnya.

Syukur, Iwan tak beranjak dari bandara hingga akhirnya Presiden Joko Widodo berkunjung ke Kota Palu. Di sela-sela pengamanan di bandara karena ada kunjungan Presiden, Iwan berupaya menyelinap masuk pesawat Herkules.

Upayanya berhasil. Namun, ketika pesawat lepas landas, Iwan ketahuan. Tak ayal, dia menjadi sasaran amarah kru pesawat. “Saya hanya bisa diam ketika dimarahi oleh tentara kru pesawat,” ujarnya.

Dari Palu, Iwan transit di Makassar dan kemudian mendarat di Bandara Halim Perdana Kusuma, Jakarta. “Di Makassar diperiksa kembali. Karena saya tidak membawa apa-apa, pilotnya tidak mengizinkan turun. Saya lega ada yang bantu,” ujarnya.

Setiba di Jakarta, Iwan sempat bingung untuk pulang ke Probolinggo. Sebab, sudah kehabisan uang untuk biaya pulang. Syukur, salah satu atletnya, Rindi Sufriyanto membantunya dan membelikan tiket pesawat menuju Bandara Juanda Surabaya. Menurutnya, sampai Kamis masih ada tiga anggota FPTI Palu yang belum ditemukan. (rud) Editor : Jawanto Arifin
#gempa palu #fpti kota probolinggo #pelatih panjat tebing #panjat tebing #tsunami palu