Uslan, 57, guru Pendidikan Agama mengungkapkan, kondisi itu sudah berlangsung dua tahun terakhir. Dari ketiga ruangan yang rusak itu, paling parah terjadi di kelas 3. Hampir 80 persen atapnya ambrol. Bahkan kayu penyangganya patah. Belum lagi beberapa kusen pintu dan jendela lapuk dimakan rayap.
Karena khawatir ambruk, siswa di 3 kelas itu dipindahkan sementara. Ada yang menempati ruang guru, perpustakaan, dan musala. Uslan yang telah mengabdikan dirinya selama 33 tahun itu mengatakan, sebelumnya renovasi pernah dilakukan pada tahun 2012.
“Namun yang garap sepertinya kurang bagus. Bahkan gentengnya saja tidak sama. Sehingga, jika hujan bocor. Dari sanalah lambat laun bagian kayu penyangga patah, dan kemudian atapnya ambrol,” terangnya.
Sejumlah upaya juga telah dilakukan pihak sekolah untuk memperbaiki ruangan yang rusak. Salah satunya dengan berkirim surat ke Dinas Pendidikan (Dispendik) setempat. Namun hingga saat ini, pihak sekolah masih belum mendapat titik terang.
“Pihak sekolah sudah mengirimkan surat. Bahkan sudah sekitar sembilan kali. Sayangnya masih belum ada jawaban,” katanya. “Kami sangat berharap ada bantuan dari pemerintah. Sehingga ruangan yang rusak dapat segera diperbaiki,” imbuhnya.
Hal senada juga diungkapkan oleh Yunita Aprilia, 11. Siswi kelas 5 itu mengaku sedih melihat kelas yang biasa digunakan untuk belajar, kini tak bisa ditempati. Sehingga untuk sementara ia harus belajar di perpustakaan. Baginya belajar di perpustakaan tak senyaman di ruang kelas. Belum lagi kondisinya yang sempit.
“Sedih tidak bisa pakai kelas lagi Soalnya belajar di sini (perpustakaan, Red) ruanganya sempit tak seperti di kelas. Mau belajar di kelas takut roboh,” katanya. Ia berharap, kelasnya segera diperbaiki. Sehingga proses belajarnya kembali seperti sedia kala.
Supiah, 39 salah satu wali murid yang sedang menunggu anaknya juga berharap adanya perbaikan dari pemkab. Menurutnya, proses belajar mengajar yang baik juga ditentukan kenyamanan belajar. “Semoga kelasnya segera diperbaiki. Kasihan anak-anak. Selain bahaya, masak belajar di musala,” tambahnya.
Terpisah Kepala Dispendik Kabupaten Probolinggo Dewi Korina masih akan melakukan pengecekan terhadap data sekolah tersebut. Mengingat, sudah ada sekitar 300 ruangan sekolah se-Kabupaten Probolinggo yang perlu diperbaiki. Kemungkinan perbaikan dilakukan tahun depan.
“Nanti saya cek. Sepertinya SDN Tongas Wetan IV sudah masuk datanya. Nah untuk perbaikan ruangan ini, kita sudah ada tim yang turun ke lapangan guna mengecek tingkat kerusakan yang ada. Untuk dananya sudah di PAK tahun 2018 dan akan dilakukan percepatan 2019. Perkirakan kami pertengahan tahun depan,” tandasnya.
Selain itu, menurut perempuan yang akrab disapa Dewi itu, tahun ini sekolah mendapatkan anggaran rehab gedung yang dikerjakan secara swakelola. “Alhamdulillah pada tahun ini sekolah tersebut mendapatkan dana rehap gedung yang dikerjakan swakelola. Lebih jelasnya langsung hubungi kepala sekolahnya,” jelasnya. (rpd/rf) Editor : Jawanto Arifin