Ritual ini ikuti warga Hindu Suku Tengger dari tiga desa di Kecamatan Sukapura. Yakni, Desa Ngadisari, Desa Jetak, dan Desa Wonotoro. Sekitar pukul 10.00, ritual diawali dengan pertemuan pengantin atau temu besan antara Desa Jetak dengan Desa Wonotoro.
Namun, bukan pernikahan dua jenis kelamin berbeda. Melainkan sama-sama laki-laki. Mereka adalah tokoh adat dari kedua desa. Pemeran mempelai wanitanya dari Desa Wonotoro dan mempelai laki-lakinya dari Desa Jetak.
Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kabupaten Probolinggo Bambang Suprapto mengatakan, Temu Manten itu simbol dari awal mula kehidupan. Kedua mempelai itu merupakan manusia pertama penghuni alam semesta.
“Hari raya ini sebagai kegiatan selamatan bumi. Dalam tarian itu ada simbol kehidupan pertama. Mereka berdua (pengantin) disimbolkan sebagai ratu,” ujarnya.
Sebelum tiba dilokasi acara, kedua mempelai berangkat dari desa masing-masing. Mereka berangkat dengan berjalan kaki dan diarak warga. Juga diiringi seni musik tradisional.
Sesampai di lokasi, kedua mempelai langsung melakukan upacara Temu Manten. Kemudian masuk lokasi ritual di Balai Desa Wonotoro.
“Tari Sodoran melambangkan selamatan bumi tadi dan ini wajib dilakukan setiap Hari Raya Karo. Ini, tradisi turun temurun yang sudah dilakukan oleh nenek moyang kami. Sehingga, kami tidak berani mentiadakan dalam ritual Hari Raya Karo,” ujar Bambang.
Sementara itu, Camat Sukapura Yulius Christian mengatakan, ritual adat dan kebudayaan seperti ini harus terus dilestarikan. Sebab, pada zaman serba modern seperti saat ini, banyak kekayaan budaya mulai tergerus modernisasi.
“Ini, untuk tetap mempertahankan kekayaan budaya nusantara ini. Sebab, ini juga nantinya akan diwariskan kepada anak cucu. Karena itu, harus dijaga dan terus diperhatikan,” ujarnya. (sid/rud/mie) Editor : Jawanto Arifin