RIDHOWATI SAPUTRI, Dringu
Pantai Tugu yang berada di Dusun Pesisir, Desa Pabean, Kecamatan Dringu, Sabtu (25/8) banyak didatangi pengunjung. Mereka rata-rata datang dengan anak-anaknya ke pantai yang dibuka secara swadaya oleh warga setempat itu. Tampak, anak-anak tersebut bermain dengan ceria.
Alat permainan yang ada di lokasi tersebut, membuat anak-anak itu semakin riang. Kegembiraan mereka tidak mengusik warga yang nampak sibuk menjemur sejenis rumput. Seorang perempuan paro baya terlihat sibuk membolak-balik rumput yang sedang dijemur.
Sinar matahari yang sangat terik itu, seolah tidak dihiraukannya. Perempuan itu adalah Hasanah, warga Desa Pabean. Saat ditanya, ia mengaku sedang menjemur lumut laut. “Ini bukan rumput laut, tapi lumut laut. Biasanya setiap seminggu sekali ada pengepul yang mengambil untuk dikirim ke Surabaya,” ujarnya.
Menurut Hasanah, belum lama warga Dusun Pesisir ini bekerja mengambil lumut laut. Sekitar 3 pekan yang lalu, mereka mulai mengambil lumut laut untuk dikeringkan. “Sebelumnya, pengepul yang ambil lumut laut ini mengambil dari Banyuwangi, Situbondo. Sekarang mulai mencari disini,” ujarnya.
Untuk menyiapkan lumut kering ini, Hasanah tidak bekerja sendiri. Dia mencari bersama suaminya, Ngateri, yang mendapat tugas untuk memetik lumut laut di perairan Dringu. “Suami saya yang biasanya ambil lumut. Saya kebagian jemur. Jemurnya ini sampai benar-benar kering,” ujarnya.
Proses mengambil lumut dilakukan saat air surut. Baru setelah itu dibawa untuk dijemur di atas panas matahari. “Sekarang kemarau dan ada angin jadi mempercepat pengeringan,” ujarnya. Bahkan untuk mempercepat pengeringan, lumut laut harus beberapa kali dibolak-balik. Selain itu, ketika sudah sore, lumut laut harus segera dimasukkan dalam karung.
“Kalau dibiarkan di tempat terbuka waktu malam, lumut yang sudah mulai mengering ini bisa lembab. Kalau sudah sore langsung dientas (diangkat, Red),” tambahnya. Dalam sepekan, Hasanah bisa menghasilkan 1 ton lumut kering. Namun pengepul biasanya baru melakukan pengambilan jika sudah terkumpul 5 ton lumut kering.
“Kalau tidak sampai 5 ton, tidak diambil. Satu kilogram lumut kering dihargai Rp 2 ribu,” terangnya. Setiap pekan, paling tidak Hasanah Bisa menghasilkan Rp 2 juta dari lumut kering. Namun, saat ini jumlah lumut laut di perairan Dringu mulai berkurang. Salah satunya, karena semakin banyak orang yang ikut menjalankan usaha mengumpulkan lumut laut.
“Sekarang sudah banyak yang ambil lumut lain. Jadi sudah tidak banyak lagi,” ujarnya. Menurut Hasanah, pekerjaan mengumpulkan lumut laut ini cukup membantu perekonomian keluarganya. Terutama karena sang suami biasanya bekerja mengumpulkan rajungan.
“Tapi sekarang rajungan sepi karena musim angin. Jadi terbantu dnegan mengumpulkan lumut laut ini,” ujarnya. Saat ditanya mengenai manfaat lumut laut ini, Hasanah mengaku tidak tahu pasti. “Tapi ada yang bilang lumut laut ini adalah bahan untuk kosmetik. Terutama untuk pemutih wajah,” ujarnya. (rf) Editor : Jawanto Arifin