Sementara, Satreskrim Polres Probolinggo Kota masih terus berusaha menyelidiki dugaan penyebab lain dari tewasnya korban.
Hal itu disampaikan Kasatreskrim Polres Probolinggo Kota AKP Nanang Fendi Dwi Susanto. “Dari empat orang saksi yang kami mintai keterangan, mereka mengatakan itu adalah kecelakaan. Meski demikian, kami masih terus berusaha mengungkap kasus ini (kemungkinan penyebab lainnya, Red),” terangnya pada Jawa Pos Radar Bromo.
Nanang –sapaan akrabnya- mengatakan, selain keterangan dari empat saksi, kepastian tewasnya korban karena kecelakaan juga disampaikan Mohamad Nuril, 16, tetangga Aldi yang saat itu berboncengan dengan korban. Keterangan Nuril menjadi penjelasan paling kuat karena dia merupakan saksi sekaligus korban dari peristiwa tersebut.
Nuril pada polisi mengatakan, saat kejadian ia berjalan dari arah utara menuju selatan. Setibanya di tempat kejadian perkara (TKP), korban hendak berbalik arah. Nah, saat itulah ada pemotor lain yang menabraknya. “Sudah kami mintai keterangan juga. Jadi, menurut pengakuannya, saat itu ia hendak berbelok dan langsung ada yang nabrak,” ujarnya.
Namun, saat ditanya setelah kejadian itu, Nuril tidak mengingatnya. Ia hanya mengingat sekilas tentang kejadian tersebut. Meskipun keterangan saksi adalah murni kecelakaan, namun Satreskrim tidak mengalihkan penanganannya pada Satlantas. “Tidak, kami sendiri yang mengusutnya,” terangnya.
Diketahui, Aldi dan Nuril ditemukan bersimbah darah di jalan raya masuk Desa Kedungsupit, Kecamatan Wonomerto, Kabupaten Probolinggo. Bahkan, Aldi tewas dengan luka parah di kepala dan dada. Semula, kasus yang terjadi 9 Juli lalu ini diidentifikasi sebagai kecelakaan.
Sebelum kemudian memunculkan dugaan lain, bahwa peristiwa ini berkaitan dengan kasus kriminal. (sid/rf/mie) Editor : Jawanto Arifin