BULAN Ramadan selalu menghadirkan suasana religius yang khas di tengah masyarakat. Salah satu tradisi yang tetap lestari adalah tadarus Alquran setelah salat tarawih. Kegiatan ini juga rutin digelar di Masjid Al-A`raaf, Jalan Serma Abdurrahman, Kelurahan Mangunharjo, Kecamatan Mayangan, Kota Probolinggo.
Usai salat tarawih, sejumlah jemaah tampak berkumpul di dalam masjid untuk mengikuti tadarus. Ayat-ayat suci Alquran dibaca secara bergantian, menciptakan suasana khusyuk yang menjadi ciri khas Ramadan.
Salah satu pegiat tadarus, Suyitno, 64. Ia mengatakan, kegiatan ini sudah menjadi tradisi yang istiqomah dilakukan setiap tahun selama Ramadan. Tadarus biasanya dimulai setelah salat tarawih dan berlangsung hingga sekitar pukul 22.00. “Pesertanya biasanya remaja hingga bapak-bapak,” ujar warga Kelurahan Mangunharjo, Kecamatan Mayangan ini.
Aktivitas mengaji Alquran di Masjid Al-A`raaf tidak hanya berlangsung ketika malam. Sore, masjid ini juga menjadi tempat belajar membaca Alquran bagi anak-anak melalui kegiatan Taman Pendidikan Al-Quran (TPQ). “Kalau sore ada TPQ khusus anak-anak. Jadi, masjid ini memang aktif dari sore sampai malam,” jelasnya.
Masjid Al-A`raaf yang berada di perbatasan Kelurahan Mangunharjo dan Kelurahan Wiroborang, menjadikannya sebagai tempat ibadah yang cukup ramai dikunjungi warga dari dua wilayah tersebut. Selain mudah diakses, masjid ini juga memiliki area parkir yang luas, sehingga memudahkan jemaah yang datang untuk salat maupun mengikuti tadarus.
Menurut Suyitno, setiap malam tadarus biasanya diikuti sekitar delapan hingga sepuluh orang. Seluruh peserta merupakan warga sekitar masjid yang secara bergantian membaca Alquran. Sementara jemaah lain menyimak bacaan tersebut untuk memastikan ketepatan bacaannya.
“Yang satu membaca, yang lain menyimak. Kalau ada yang kurang tepat dalam panjang pendek huruf atau tajwid, langsung diingatkan. Karena dalam bahasa Arab, panjang pendeknya huruf bisa memengaruhi arti,” tuturnya.
Pegiat tadarus lainnya, Wahyu Hidayanto, 46, mengatakan, kegiatan ini telah berlangsung cukup lama. Setidaknya, ia mengetahui tradisi itu sudah berjalan sejak 2000 dan terus dilakukan hingga sekarang.
“Mungkin sudah lebih lama. Yang kami tahu sejak tahun 2000 kegiatan ini sudah ada dan selalu dilaksanakan setiap Ramadan,” kata warga Kelurahan Wiroborang ini.
Dalam pelaksanaannya, para jemaah biasanya menargetkan membaca dua juz setiap malam. Dengan pola tersebut, mereka dapat menuntaskan bacaan Alquran hingga dua kali selama Ramadan. “Sehari biasanya dua juz. Jadi, dua minggu sudah khatam sekali. Dua minggu berikutnya khatam lagi,” jelasnya.
Selain kegiatan mengaji, semangat kebersamaan juga terlihat dari partisipasi warga yang turut menyediakan konsumsi bagi peserta tadarus. Warga secara bergiliran menyumbangkan makanan maupun minuman sebagai bentuk dukungan terhadap kegiatan tersebut.
“Di sini ada jadwal donatur untuk takjil dan konsumsi tadarus setiap hari. Jadi, warga bergantian menyumbang, ada yang membawa makanan, minuman, atau kue untuk dinikmati bersama,” kata Wahyu.
Tradisi tadarus yang terus dijaga ini tidak hanya menjadi sarana memperdalam bacaan Alquran, tetapi juga mempererat kebersamaan warga dalam menyemarakkan bulan suci Ramadan. (inneke agustin/rud)
Editor : Fahreza Nuraga